Monthly Archives: February 2017

Mengumpulkan Mantan dalam Kolektor Mitos; Selera Salihara

Oleh: Mohammad Sadam Husaen, Pawang Hujan siksakampus.com

 

Sebuah artikel review ataupun pengantar diskusi biasanya akan diawali dengan bahasa ndakik-ndakik ala kritikus dunia ngehek ketiga yang agaknya semakin murahan saja. Goenawan Muhamad misalnya, dia tidak akan langsung mengatakan bahwa ada sebuah karya sastra bagus yang layak dibaca. Tapi Mbah Goen akan mengajak pembacanya berputar-putar dahulu dengan bahasanya yang entah dia pelajari dari planet mana. Padahal tulisannya tersebut nantinya juga hanya akan jadi bungkus gorengan atau dijual seharga lima ribuan di depan Gramedia.

Biasanya para kritikus ngehek macam Mbah Goen akan memakai template yang tak jauh berbeda; penulis berhasil memadukan antara kehidupan sosial dan ide tantangnya dengan keterampilan mengembangkan alur cerita dengan baik. Penulis seperti berangkat dari ide abadi tentang pencarian jati diri, namun bukan dalam konteks klasik Freud maupun Lacan, melainkan dalam konteks memunculkan apa yang disebut Nietzshe sebagai ‘kehendak untuk berkuasa’. Familiar kan dengan template tersebut?

But, its juts about how to read the book, not about mbuletisme. Pembaca tak perlu diarahkan kesana-kesini dengan berbagai paragraf ad hominem. Seperti membaca kumpulan cerpen pertama milik Halim Bahriz; Kolektor Mitos. Saya tak perlu menyebut Faucoult, Ignas kleden sampai Afrizal, because generally itu hanya akan membuat saya mengalami disorientasi ketika mengomentari buku tersebut. Membaca Kolektor Mitos bagi saya adalah membaca kumpulan cerpen seorang kawan. Jika nantinya di beberapa paragraf sebelum tulisan ini selesai ada paragraf yang ad hominem, itu hanya karena saya mengenal Halim secara personal.

Kolektor Mitos saya baca secara acak, karena saya paham Halim adalah Nirwan Dewanto wanna be. Berbagai daftar kata-kata arkaik dan atau plain obscure yang sering digunakan Nirwan Dewanto, juga sering digunakan oleh Halim dalam berbagai cerpen yang sebelumya pernah dia tulis. Begitu pun dalam Kolektor Mitos, masih saja Halim bertahan dalam mbuletisme ala-ala penulis yang tidak laku di kalangan remaja hitz.

“Tak sesiapa yang bergerak. Hanya aku. Diam jadi satu-satunya cara memahami apa yang kita hadapi. Hidup jadi sebentuk kematian lain. Jenis kiamat apa yang tengah kusaksikan ini?” (Sebuah Makam dalam Cahaya, hal 6)

Saya akui tuduhan yang saya berikan pada Halim memang kurang kuat, jika kita tidak pernah membaca Nirwan dan Goenawan Muhamad. Apalagi jika yang kita baca hanya semacam motivator gagal ala Darwis Tere Liye. Paragraf-paragraf yang dibangun Halim dalam Sembilan cerpennya di Kolektor Mitos sebenarnya adalah paragraf-paragraf yang dipaksa untuk selesai. Metafora-metafora yang pengennya jadi far-fetchen malah jatuhnya obvious. Ada semacam pseudo-language yang entah sengaja atau tidak dimasukkan dalam cerpen-cerpen yang ditulis oleh Halim. Tak perlu belajar Sausurre untuk mengetahui hal tersebut. Cukup santai dan baca baik-baik Kolektor Mitos.

Jika sudah selesai membaca, ada semacam legitimasi dan paksaan dari penulis pada pembaca untuk tidak bisa tidak akan bilang; buku ini keren banget sih, tapi gak tau kenapa kok bisa jadi sekeren ini. Ya karena mungkin Halim sengaja mengintimidasi pembacanya dengan seleranya. Makanya tadi saya bilang bahwa buku ini tidak akan laku di kalangan remaja hitz.

Seobscure apapun Halim dalam kumpulan cerpen pertamanya ini, saya juga akan tetap menulis review ini. Pertama karena Halim kawan saya, kedua karena beberapa cerpen di dalamnya menyinggung kehidupan kawan-kawan yang pernah seranjang sepenghidupan dengannya dan ketiga karena saya masih jomblo. Siapa tahu dengan tulisan ini saya bisa dapet pacar. Tapi yang paling saya suka ketika membaca Kolektor Mitos adalah bagaimana Halim menyisipkan sindiran-sindiran licik pada beberapa orang yang dia dan saya kenal. Mungkin di luar sana orang-orang itu sedang mengumpat gemas dan ingin segera membunuh Halim pelan-pelan.

Seperti dalam cerpen berjudul Secangkir Cincin. Nama-nama tokoh yang dimunculkan Halim dalam cerpen itu adalah nama yang benar-benar ada di dunia nyata. Macam Mardi Luhung, Afrizal Malna, Goenawan Mohammad, Niwan Dewanto, Ayu Utami dan beberapa yang lain. Halim menyisipkan sindiran liciknya kepada nama-nama tersebut melalui sifat serta kelakuan yang tergambarkan dalam cerpennya tersebut.

“Hallo… Aku penasaran dengan caramu meracik kopi. Tenanglah. He…” sembari mengelus gundulnya, iya bicara lagi, “Apakah aku mengganggu?”

“Ngapain Pak Malna di sini? Saya bisa kena marah! Tolong, jangan mempersulit saya. Tunggu di Meja. Sepuluh menit lagi semuanya akan beres.” (Secangkir Cincin, Hal 34)

Juga dalam Cerpen Kepulangan Terakhir, kehidupan seorang aktivis mahasiswa yang mungkin akan menyinggung beberapa orang di sekitar Halim termasuk juga saya secara pribadi dalam urusan per-kenthu-an. Tapi walaupun begitu, Halim tetaplah Halim. Saya mengenalnya sebagai seorang penulis yang suka sok nyleneh, maunya hiperbol selalu, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi tema-tema cerpen dalam Kolektor Mitos sebenarnya adalah tema-tema yang gampang sekali kita temui. Bahkan saya lebih suka menyebut kumpulan cerpen milik Halim ini sebagai Kolektor Mantan. Saya menemukan berbagai macam mantan dalam kesembilan cerpen yang ada dalam Kolektor Mitos. Ada mantan tubuh dalam cerpen Sebuah Makam dalam Cahaya dan Lelampak Lending Kao serta kolektor mitos. Ada Mantan Pacar, Mantan teman seperkenthuan dalam cerpen Kepulangan Terakhir dan Perempuan yang Diutus kematian juga 20 Tahun dari Curam Kenangan. Ada mantan orang tua dalam Ibuku Seorang Lelaki.

Kumpulan cerpen pertama Halim ini begitu penuh dengan masalah per-mantan-an. Jika reviewer yang lain sibuk dengan berbagai teori dan nama-nama orang intelek yang sulit disebutkan namanya. Saya lebih suka menganggap bahwa Halim sebenarnya sedang mengumpulkan fenomena per-mantan-an yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi tentunya diracik menjadi cerpen dengan bahasa yang post-GM-Nirwan Dewantois lah. Menyebut Halim sebagai Afrizalian sepertinya hanya sebuah bentuk cita-cita yang kerap gagal. Saya lebih condong menyebut Halim menempuh jalan menulis menuju salah arah, eh maksud saya salihara.

Dan saat Halim disebut-sebut sebagai penulis yang Afrizalian dan highbrow logika tubuh. Apakah hal tersebut adalah sebuah tanda bahwa referensi para pembacanya atau bahkan Halim sendiri hanya sekedar pajangan dalam tulisan saja? Atau sekaligus tanda bahwa Kolektor mitos adalah sebuah kumpulan cerpen yang memang seharusnya dijual murah di pasaran agar bisa diakses oleh para remaja hitz dan bukan hanya bisa diakses oleh para saliharais?

Terakhir, terlepas dari Halim dan cerpennya. Gambar sampul Kolektor mitos sepertinya dipaksakan untuk segera selesai, karena beberapa anatomi belum tergarap sempurna. Terlihat jelas pada bagian kepala yang tergeletak, bukan lebih mirip kepala malah lebih mirip topeng usang yang tak pernah terpakai. Mungkin pembuat sampulnya seorang modiglianis, sama seperti Halim yang Nirwan Dewantois.

 

poster-halim

Advertisements

Kumpulan Kisah Tentang Kota

Oleh: Amal Taufik

Penantian itu akhirnya memperoleh jawab pada Jum’at malam, minggu lalu. Berkat bantuan mata-mata Alif Alerion, buku kumpulan cerpen Kolektor Mitos karya Halim Bahriz akhirnya sampai di tangan saya. Malam itu juga buku tersebut langsung saya buka dan segera saya baca cerpen pertamanya. Setelah membaca cerpen pertama, saya merasa susah tidur. Sebab saya mesti menulis ulasan singkat tentang buku ini.

Karena satu dan lain hal, saya baru sempat melanjutkan membaca kembali buku ini dua hari kemudian dan baru bisa menulis ulasan ini dua harinya lagi. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah bagi saya, tapi apa mau dikata, saya tulislah juga akhirnya yang saya tangkap setelah membaca Kolektor Mitos.

———–

Jika kita pernah membaca cerpen-cerpen Agus Noor atau Seno Gumira Ajidarma, mungkin kita akan cukup familiar dengan tema-tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen ini. Tema tentang masyarakat perkotaan. Sebagian besar cerpen dalam buku ini menggunakan latar perkotaan. Beberapa tokoh di dalam cerita-ceritanya pun agaknya merupakan representasi dari masyarakat urban.

Meski demikian, cerita-cerita Halim bukanlah pemantulan ulang kenyataan yang ada di kota. Lebih dari itu, melalui dunia dan tokoh rekaan yang ia bangun, Halim menyodorkan kegelisahan yang ‘liyan’, ironi, dan sesekali diselipi pertanyaan yang seolah-olah ditujukan kepada kita, pembacanya. Hal tersebut bisa kita jumpai sejak cerpen pertama, Sebuah Makam dalam Cahaya.

….. Bergegas tubuhnya menjelma laboratorium yang sangat sibuk. Mereka merakit ulang tubuh Jilan. Jari-jari tangannya digantikan dengan keyword. Pada kakinya dipasangkan roda. Matanya telah dirombak mirip layar monitor. Dalam kedua rongga telinganya dibangun miniatur menara perangkap sinyal. Mulutnya disumpal potongan daging kelamin. Kepalanya menjelma mesin yang belum selesai dirakit…” (Hal. 2)

… Pagi rupanya baru saja datang. Manekin-manekin berjajar rapi dalam etalase Mall paling terkenal di kota yang ABG. Tiruan wajah selebritis dan atlet, hingga para filsuf, hampir lengkap dipajang bersama kostum-kostum yang menggiurkan untuk dimiliki…” (Hal. 3)

Kalimat dengan suasana serupa di atas mungkin akan biasa saja jika hanya terdapat pada satu cerita. Kita bisa menganggapnya sekadar kebutuhan cerita—sebagai upaya visualisasi kepada pembaca tentang di mana tempat cerita itu berlangsung. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Pada cerpen-cerpen selanjutnya, kita akan bertemu lagi dengan suasana serupa di atas. Tetapi dalam bentuk yang berbeda.

“… Aku tak pernah membayangkan akan bekerja sebagai pelayan. Ini seperti mengubur mimpi yang kujaga sejak remaja dalam sebuah pekerjaan. Peternakan kecil di dekat danau kecil dan kebun sayur yang juga kecil. Tentu, sekarang terkesan besar buat seorang yang telah menjadi pelayan.” (Hal. 28)

Kamarnya telah wangi, dipermak seperti pekerja kantoran pagi hari…” (Hal. 50)

Selain itu, benda-benda seperti ‘Taksi’, ‘Mall’, ‘Restoran’, ‘Minuman’, ‘gadget’, juga mudah dijumpai dalam cerpen-cerpen di buku ini. Kalau pun benda-benda tersebut tidak muncul dalam satu cerpen, biasanya akan digantikan dengan pola interaksi atau perilaku, tak ubahnya benda-benda yang tadi saya sebutkan, khas masyarakat kota.

Barangkali “puncak” dari tema-tema tersebut ada pada cerpen Mutan. Cerpen Mutan mengisahkan tokoh bernama Bode yang tengah mengikuti sebuah lokakarya teater kontemporer di Jakarta. Cerpen ini memaparkan materi lokakarya yang disampaikan oleh Ben, dosen sekaligus seniman dari Yogyakarta, tentang post-modern. Ben memberikan ceramah panjang lebar tentang ‘ruang’, dimensi perkotaan, beserta sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat kota, yang nantinya, sebelum cerita berakhir, akan ditimpali oleh tokoh utama, Bode.

Di luar daripada itu, sebagaimana karya sastra pada umumnya yang menampilkan cerita-cerita tentang manusia, maka sudah wajib hukumnya bagi buku ini memberikan satu atau dua porsi mengenai aspek paling penting dalam kehidupan manusia. Ya, betul, apalagi kalau bukan kisah asmara. Siapa yang betah membaca sembilan cerita, meski tipis tapi amat serius, tanpa dibumbui cerita cinta?

Mungkin Anda betah. Tapi saya jelas tidak.

Cerita cinta yang saya maksud adalah Kepulangan Terakhir, yang menceritakan kisah cinta antara tokoh ‘aku’ dengan Rani, gadis yang ‘aku’ idamkan sejak 6 tahun yang lalu. Tokoh ‘aku’ dalam cerita ini dikisahkan sebagai seorang aktivis yang berlatarbelakang dari keluarga aktivis pula. Ia terkenal arogan, senang berkelahi dengan ide-ide heroik, tetapi agak tolol dalam urusan percintaan. Yang paling saya senangi dalam cerita ini adalah kejujuran tokoh ‘aku’ dalam bertutur. Ia sama sekali tidak menutupi perasaannya saat berinteraksi dengan tokoh-tokoh lain di dalam cerita, baik sebagai aktivis maupun sebagai pecundang romantik. Sebagai aktivis, misalnya, cerita tentang arogansinya, mengutip kata-kata Rani, “… Aku melihatmu teriak-teriak di jalan, mengumpati dosen-dosen.” Atau cerita bagaimana ia mengeluarkan seorang senior dari forum yang tengah ia pimpin, menunjukkan sikapnya yang terang-terangan. Sebagai pecundang romantik, ia pun tidak malu dan tidak berusaha terlihat heroik saat mengungkapkan perasaannya pada Rani, juga pada momen perbincangan tentang air mata dan air hujan dengan Cak Ipul.

———–

Tentu saja apa yang saya tangkap dan saya maknai dari Kolektor Mitos, yang lantas saya tuliskan menjadi sebuah ulasan-yang-amat-singkat ini, sangat mungkin bisa berbeda dengan apa yang dimaknai oleh pembaca lainnya, dan sangat mungkin juga melenceng dari makna sesungguhnya, yakni makna yang diberikan oleh sang penulis, Halim Bahriz, terhadap cerpen-cerpennya. Apa yang saya lakukan ini adalah sebuah upaya menduga-duga. Andaikata makna yang saya berikan ternyata pas, itu jelas hanya kebetulan belaka.[]

Continue reading Kumpulan Kisah Tentang Kota

Kolektor Mitos : Ketimpangan Antara Kota dan Desa

Oleh: Wahyu romadhon

Memori kulkas itu begitu saja menghubungkan dirinya dengan kata kunci lainnya : kosmos tubuh, makan, waktu, musim siklus sosiologi. ( Bahriz,2017 : 51)

Membaca kolektor mitor, mendekatkan kita pada hal hal yang telah menjadi sepele di lingkungan kita, seperti hijaunya alam, tanaman yang masih segar, dan ibu ibu yang rela bangun pagi hanya untuk menata barang dagangannya ditengah padatnya kampung. Hal sepele tesebut terjadi setelah manusia mengumandangkan dirinya sebagai pusat kehidupan, mereka mencoba keluar dari tuhannya yang membelenggu rasionalitasnya. Mereka telah bisa menghadirkan tuhan tuhan baru yang akan membantu mereka dalam kehidupan sehari hari. Tapi apakah mereka bisa mengatasi ledakan ciptaannya sendiri?

Jakarta Dan Pinggiran Rel Kereta.

Kolektor mitos dibuka dengan cerita Sebuah Makam dalam Cahaya, Jilan sebagai tokoh utama kebingungan dengan apa yang telah dijejerkan di mall mall, mall memberi ruang pada tubuh untuk memikirkan baju apa yang cocok untuk tubuhnya. Mall tersebut tidak memuaskan hasrat yang ada pada manusia, tetapi mereka memberikan kebingungan baru apa yang harus dipilih mereka. Jilan menjadi pusing ketika ia berada di dalam mall, ia kontras dengan kebanyakan orang yang suka belanja. Kebingungan Jilan bisa dilihat dalam potongan kalimat “aku tak merasa sedang di dalam mall. Suasana begitu mengharukan. Biasanya, tempat beginian hanya bikin pusing”(Bahriz, 42017, 4).

Makam dalam cahaya mengingatkan saya pada sebuah mall kecil di kota Jember, tempat orang orang menghabiskan uangnya untuk belanja baju dan kebutuhan untuk memenuhi fashion lainnya. Mall yang datang dari kota besar,misal jakarta, memberi ruang kepada orang kabupaten untuk merasakan apa yang dirasakan orang kota. Mall bisa juga memperlihatkan ketimpangan antara yang punya dan tidak punya. Kita bisa melihatnya melalui orang orang belanja dan tukang becak yang sedang berada di depan mall. Mall yang juga menyediakan kebutuhan sehari hari dapat digunakan sebagai alasan seseorang untuk meninggalkan orang lain, semisal sepasang keluarga yang tak mempunyai cukup uang untuk berbelanja di dalam mall akan menceraikan satu sama lain,dan mencari orang lain yang lebih cukup dalam hal finansial.

Perceraian karena sebuah  finansial bisa dilihat di cerpen “ Ibuku Seorang Lelaki”. Ayu sebagai tokoh utama di cerita yang berjudul “ Ibuku Seorang Lelaki”. Ia sebagai anak yang merasakan bagaimana rasanya ditinggal ibunya, harus tabah menghadapi kekurangan finansial yang diderita oleh keluarganya, ia hidup dengan seorang bapak yang sakit-sakitan dan berprofesi sebagai tukang becak. Ibu ayu yang lebih memilih hidup dengan orang lain yang mapan bisa dilihat sebagai upaya untuk bisa hidup dengan finansial yang layak. Finansial yang digunakan oleh ibu Ayu sebagai tolak ukur suatu kebahagiaan membuat ibu ayu harus meninggalkan orang yang tak mempunyai finansial yang cukup. Meskipun telah ditinggalkan oleh istrinya, bapak Ayu lantas tak membiarkan anaknya mengutuk ibunya. Kebaikan bapak Ayu bisa dilihat dalam potongan kalimat “ ayu tak boleh sedikitpun membenci ibu, ya ?” (Bahriz,2017 : 63).

Bapak Ayu ialah representasi orang desa yang sabar dalam menghadapi masalah, ia tak mengutuk istrinya yang meninggalkannya. Bapak Ayu berbeda dari bapak bapak lain yang tinggal di tengah kota. Ia yang hidup dipinggir rel masih mewarisi  kesabaran, ia juga berbeda dengan ormas ormas yang sering digunakan sebagai alat untuk meraih kesuksesan dalam politik dan yang sering menghadapi sesuatu dengan kekerasan. Kehidupan ormas sangatlah timpang dengan kehidupan orang desa seperti bapak ayu. Hal tersebut bisa dilihat di potongan kalimat “ ormas-ormas itu mengalihkan kelengkapan ritual peribadatan menjadi kostum kekerasan”(Bahriz,2017 : 87). Ketimpangan ketimpangan antara kota dan desa dengan jelas tergambarkan di cerpen “Mutan”. Tokoh utama bode hidup di desa, ketika ia sampai di kota, ia temui sayur yang di taruh di dalam kulkas untuk menjaga kesegarannya, menteri agama pakai jaket orange, korupsi dana haji, macet yang panjang. Bode yang tak biasa menemui hal tersebut didesanya mengutuk keadaan dikota itu, ia banyak mengeluh dengan kehidupan di kota. Tampaknya ia sadar, manusia tak selamanya berhasil dalam menyelesaikan masalah dan temuan temuan yang telah diciptakannya.[]

Wahyu Romadhon, sedang belajar di Jurusan Sastra Inggris Universitas Jember.

Tokoh-tokoh yang Menghuni Tubuh

Oleh: MUHAMMAD ULUM, Penikmat Sastra

Seperti teman-temanya yang lain, saya juga menyambut hangat atas lahirnya “anak” dari buah pikiran Halim Bahriz. Selamat! Jauh hari sejak ia mengumumkan prihal kelahirannya, saya sudah tak sabar ingin segera menimangnya. Harap diketahui, “anak” yang saya maksud adalah buku kumpulan cerita perdananya. Bagi saya, ini suatu yang luar biasa, karena di samping inten menulis puisi dan naskah teater, Halim tidak alfa menulis cerita.

Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya, begitu nama bukunya. Tidak terlalu tebal. 112 halaman – boleh dibilang – ukuran yang ideal untuk memuat sembilan cerita. Pada sampul tidak tertera genre cerita, cerita pendek misalnya. Ini memberi isyarat bahwa Halim tidak ingin membatasi pikiran pembacanya dengan genre tertentu. Biarlah pembaca sendiri yang menentukan genre apa cerita yang sedang dibaca – Lelampak Lendong Kao, misalnya, bolehlah pembaca menyebutnya sebuah dongeng.

Dihadapkan pada cerita-cerita dalam buku itu, saya seolah diajak berselancar ke alam mimpi, meninggalkan alam bawah sadar, menyelami dunia metafisik; memahami hal-hal yang bernuansa mistik. Dunia apakah yang sedang dihadapkan kepada saya ini? Saya pikir, Halim telah melalui banyak pengalaman yang luar biasa, baik fisik maupun batin, sehingga cerita-cerita yang dilahirkan penuh misteri, mimpi, mistis. Keterlibatan dan keterpaduan antara pengalaman fisik dan pengalaman batin, bukankah demikian sebuah karya sastra lahir?

Dalam pandangan Halim, barangkali, keterpaduan pengalaman fisik dan batin memberikan ruang gerak dengan ritme yang berhaluan, bahkan berlawanan. Tubuh sebagai interpretasi pengalaman fisik memerlukan panca indera untuk menyesapi hakikat ruang. Sebagai pengalaman batin, tubuh menyimpan kosmosnya tersendiri; menghadirkan diri di luar ruang dan waktu. Keduanya (tubuh dan batin/jiwa) akan dianggap benar-benar hadir jika tidak menimbulkan kontradiktif.

Maka tak heran, dalam cerita-cerita Halim kerapkali kita temui atmosfir kontradiktif antara tubuh dan sesuatu di dalam tubuh (batin/jiwa). Cerita-cerita yang mengandung unsur-unsur semacam ini dapat kita lihat pada Sebuah Makam dalam Cahaya, Perempuan yang Diutus Kematian, dan Mutan. Dalam Sebuah Makam dalam Cahaya, tokoh aku sebagai penulis cerita turut larut dalam situasi yang dirasakan oleh Jilan, tokoh rekaan dalam cerita yang ditulisnya. Dalam monen tertentu ia – bahkan – ikut terlibat dalam setiap adegan. Mereka (aku dan Jilan) sama-sama diliputi kesedihan dan ketakutan.

Tokoh aku sangat membenci tempat keramaian, seperti mal. Tempat semacam ini membuatnyta pusing. Meski demikian, ia tak bisa menghindarinya. Bahkan, ketika Jilan mencoba segala jenis pakaian di mal itu, “aku” tak bisa melakukan apa-apa, keculi membiarkannya. Sebagai alibi, “aku” berusaha memisahkan diri dengan tubuh Jilan.

Jelaslah, batin selalu meronta ketika menyaksikan fenomena-fenomena yang tidak wajar di luar tubuh. Ia akan bergerak tidak wajar pula. Dan, kalaupun bergerak, ia merasa tidak sedang bergerak, bahkan merasa sedang tidak berada di suatu tempat.

Tidak hanya itu, benda-benda yang tidak wajar menghiasi tubuh, batin berusaha melepaskan diri dari tubuhnya. Ketika telah terlepas, ia enggan memasukinya lagi. Satu-satunya pilihan, ia lebih baik berada di luar tubuhnya sendiri. Ada bagian yang tidak dikenali, sehingga ia merasa seperti menghadapi tubuh yang salah (hlm. 5).

Ketidakwajaran dan Isyarat Kematian

Sedikit banyak, tokoh-tokoh dalam cerita-cerita Halim dihadapkan pada sesuatu yang tidak wajar. Dan, ketidakwajaran ini membuat mereka ketakutan, diselimuti kesedihan. Ketakutan dan kesedihan, akhirnya, menjadi isyarat kematian. Meski sebagian dari mereka diliputi cinta, ujung-ujungnya dihantui harapan utopis. Kehadiran orang-orang dari masa lalu hanya membangkitkan kenangan-kenangan yang siap membuat air mata bercucuran. Rindu dengan seseorang yang pernah dicintai, akan membuatnya mengurung diri dalam sangkar keterasingan. Continue reading Tokoh-tokoh yang Menghuni Tubuh

Mitos Penyair yang Menulis Cerpen

Oleh: Kholid Rafsanjani, pembaca Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya

Pada kisah terakhir dalam kumpulan cerpen Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya pembaca mungkin akan terkejut. Bahwa sebuah cerita pendek pada satu komposisi tertentu akan menguras waktu pembacanya. Ia tidak mau dibaca dalam waktu sekali duduk. Sebab penulis sepertinya sengaja meramu tiap lapis cerita dengan koleksi kepanikan, yang dikumpulkan sepanjang persinggahannya dari satu rumah ke rumah lainnya.

Saya mungkin satu dari sekian banyak pembaca yang mengira Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya, lebih mirip puisi prosais. Ada cerita yang ditulis di luar kesepahaman umum sebuah cerpen, alih-alih dilabeli sebagai cerpen.

Ignas Kleden pernah menulis esai tentang penyair yang menulis cerpen. Baginya, tidak semua penyair mau dan sanggup menulis cerpen[i]. Sekalipun memang ada penyair yang menulis cerpen, namun namanya sebagai cerpenis tidak cukup terkenal. Sitor Situmorang lebih dikenal sebagai penyair yang menulis Malam Lebaran. Begitu pula dengan Goenawan Mohammad yang menulis Asmaradana, dan Sapardi Djoko Damono yang menulis Hujan Bulan Juni. Meski Sapardi akhirnya menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya, Pengarang Telah Mati, tidak lama setelah esai Kleden terbit di Horizon pada Juni 2001.

Menjadi sebuah catatan penting pula ketika seorang penyair menulis cerpen. Karena penyair umumnya tidak hanya mereproduksi kata-kata dan bahasa, tetapi ia juga mereproduksi makna yang menolak menjadi absolut. Penyair menawarkan sifat puitis. Menghadirkan kata-kata yang tidak hanya menjadi kapal barang pengangkut konsensus bahasa. Misalnya pada satu nukilan cerpen Hujan yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri.

Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Hujan bukanlah sekedar gemertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha hujan adalah ucapan mededahkan sastra, nyanyi, musik dan tari.

Kleden menyebut cerpen tersebut maknanya sangat kuat, tanpa peduli makna-teks atau peristiwa di baliknya. Pada kumpulan cerpen Halim Bahris, tiap teks yang disusun memang tidak sekuat cerpen Hujan yang ditulis Sutardji. Mungkin Halim tidak sepenuhnya mengamini kredo Sutardji yang menyebut kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, atau dari beban idea.[ii] Tetapi Halim memadukan makna prosais yang bergantung pada peristiwa dan referensi, dengan makna puitis yang menjadikan kata secara aktif menciptakan maknanya sendiri.

Dari bingkai jendela; Semarang menjauh serupa langit yang rebah, menjadi jutaan kunang-kunang yang seluruhnya putih. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Kolektor Mitos adalah cerpen Halim yang paling prosais, selain juga Mutan. Bagian terpentingnya adalah perpaduan antara sifat prosais dan puitis dalam kumpulan cerpen ini. Pada cerita paling prosais pun Halim masih berusaha menyusupkan sifat puitis menjadi narasi. Menjadi prosais karena dalam kedua cerpen tersebut, Halim akhirnya banyak merangkai kalimat-kalimat pendek dan aktif. Sehingga pembaca pun dapat dengan mudah terhubung dengan jaringan referensi yang dibangun pengarang. Memudahkan pembaca dalam membayangkan adegan dan dialog. Berbeda dengan cerpen-cerpen Halim lainnya: dibanjiri kalimat-kalimat panjang.

Tangan Adin gemetaran memegangi genta itu. Seolah bisa ia rasakan sisa-sisa jeritan dan deret adegan pembunuhan. Saat melintasi jalanan kota lama, kata Adin, genta tersebut seperti menangis. Ia mengelusnya. Aku yang dimintanya jadi sopir, menahan tawa. Tapi akhirnya gagal. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Perpaduan antara sifat puitis dan prosais dalam Kolektor Mitos dan Mutan, membuat pembaca lepas dari belenggu bank referensi pengarang. Sebab seluruh cerpen bercerita tentang tubuh kita sendiri, seperti disebut Irsyad Zaki. Pembaca bebas menggunakan referensi mereka sendiri. Seperti pembaca puisi.

Saya mulai curiga bahwa bentuk-bentuk cerita yang disajikan dalam kumpulan cerpen pertama Halim, adalah pengaruh dari jalan dan laku kepenyairan yang ia tempuh. Ketekunan membaca puisi gelap. Hingga belakangan Halim disebut sebagai Afrizalian. Sayangnya tidak ada satu pun ‘cerpen gelap’ hari ini.

Pada cerita Sebuah Makam dalam Cahaya, tubuh yang dinarasikan adalah tubuh pembaca. Ada banyak peristiwa yang saya kira sangat dekat dengan kebanyakan pembaca: tidur, bangun, dan bermimpi. Serta persoalan organ tubuh yang digantikan teknologi. Cara berbicara manusia dengan mesin pencarian di internet, cara berjalan dengan roda, dan mata yang disibukkan dengan layar monitor.

Pasukan liliput serupa tentara dengan cepat memenuhi kasur, menggerigi tubuh Jilan di sana-sini. Bergegas tubuhnya menjelma laboratorium yang sangat sibuk. Mereka merakit ulang tubuh Jilan. Jari-jari tangannya digantikan dengan keyword. Pada kakinya dipasangkan roda. Matanya telah dirombak mirip layar monitor. Dalam kedua rongga lingganya dibangun miniatur menara penangkap sinyal. Mulutnya disumpal potongan daging kelamin. Kepalanya menjelma mesin yang belum selesai dirakit. (Sebuah Makam dalam Cahaya, halaman 1)

Ihwal sifat puitis dan prosais memang bisa jadi sangat subyektif. Tetapi mengasosiasikan sebuah momen saat perempuan dalam pikiran kita sedang dalam masa kritis, dengan kejadian listrik padam di tempat cukur, adalah hal yang sangat sederhana. Tentu saja karena setiap pembaca memiliki referensi berbeda dengan kejadian listrik padam di tempat cukur.

Tiba-tiba denyut jantung perempuan itu tak bisa ia dengar, seperti kejadian listrik padam di tempat cukur. Bisikan kembali menggentayangi telinganya: “Namaku, Kematian. Saudara kembarmu.” Pejam matanya seketika meledak. (Perempuan yang Diutus Kematian, halaman 55)

Penggalan dari cerpen Perempuan yang Diutus Kematian dan beberapa cerpen yang serupa, saya kira adalah satu hal yang ingin dibuktikan Halim. Bahwa sifat puitis tidak selalu mengalir dari kata-kata indah. Sebaliknya, ia bisa hadir dari memori sederhana tentang keseharian yang terlalu sering disepelekan. Meski cerpen seperti 20 Tahun dalam Curam Kenangan dan Lelampak Lendong Kao akhirnya mendapat sentuhan teenlit yang cukup menjengkelkan.

Akhirnya, Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya adalah kumpulan kisah perlu dibaca untuk memperlambat keseharian yang semakin gegas.

 

[i] Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan: esai-esai sastra dan budaya.

[ii] Pengantar kumpulan O (dalam O Amuk Kapak, 1981) yang juga terbit di majalah Horizon.

 

poster-halim

Kolektor Mitos: Kumpulan Problematika dan Otoritas Tubuh

img-20170215-wa0012
Masih Mitos di Bulan Februari

 _________________________________________

Kolektor Mitos: Kumpulan Problematika dan Otoritas Tubuh

Oleh: Ghanesya Hari Murti

Kolektor Mitos (2017), sebuah kumpulan cerpen karya Halim Bahriz, lebih tepat diucapkan sebagai kumpulan cerpen dengan sederet permasalahan tentang tubuh. Bukan tubuh secara biologis, tapi tubuh secara sosio kultural yang selalu dipermak sedemikian elok agar pas, fit dan proper dengan struktur sosial. Halim Bahriz, mungkin sadar betul dia tengah mengajak pembacanya pada momen akil baligh-nya yang entah keberapa. Dari perjumpaan pada lembar pertama “Sebuah Makam dalam Cahaya” saya seolah diingatkan ulang secara repetitif bahwa kita tidak pernah mengenali tubuh kita lagi karena tiap bagiannya makin tercerabut dan bertumbuh. Tubuh kita dalam hemat yang ‘asyik’ telah bertransformasi sedemikian patuh agar dapat disebut sebagai tubuh yang ‘normal’. Hal tersebut terlihat pada pemangkasan kelamin ataupun perubahan dada yang membesar khas tanda aqil baligh telah digantikan pada momen ingin berubah dan menyerupai ‘manekin’, sepasang kerbau yang hendak menjadi raja, ibu yang seorang laki dan sebagainya. Terlihat betul keseriusan Halim dalam memahami tubuh tidak lagi dalam kerangka yang begitu positivis biologis, tapi tubuh yang secara sosial juga turut merekam pengetahuan, sehingga tidak lagi membutuhkan kesadaran sebagai subjek yang berkhendak dalam bertindak.

Menyoal Logika Tubuh : “Sebuah Makam dalam Cahaya”, “Lelampak Lendong Kao”, “Kepulangan Terakhir” dan “Ibuku Seorang Lelaki”

Ia keluar dari ruang, berlagak seperti tak pernah terjadi apa-apa, dan:Fuck! Ia menjadi tubuhku. Ia bukan Jilan lagi. Mata dan caranya tersenyum begitu begitu menggiurkan, sungguh-sungguh bekerjasama mengucapkan “This is Me!”… Perlahan, pintu besar itu terlihat seperti rahim besar yang bisa melahirkan ratusan tubuh sekaligus (Bahriz,2017:5)

Penggalan tersebut menyiratkan bahwa seseorang telah kehilangan otoritas tubuhnya secara otonom. Sistem, teknik, mekanisme pendisiplinan menjadi barisan kata kunci yang bisa dijadikan acuan mengapa akhirnya lokus yang ditaklukkan bukan lagi kesadaran individu melainkan tubuh. Individu tidak perlu lagi ditaklukan kesadarannya atau mengetahui apa yang tengah berlalu lintas dalam tempurung tersebut asal cara berpakaian dan otonomi tubuh sudah dapat dinytakan seragam. Tanda tersebut dapat menajdi acuan bahwa sudah dapat dipastikan, seseoramg telah kehilangan kedaulatannya secara penuh.

Halim seolah menghendaki bahwa tidak ada kesadaran yang hendak ditawarkan ketika tubuh secara metafor sudah tidak lagi ubahnya serupa ‘manekin’. Dalam semangat perpindahan dan transformasi yang semacam itu, ada sekian kekuasaan yang tengah ditancapkan pada tubuh. Saya ingin meminjam cara berfikir Foucault tentang bagaimana sebenarnya tubuh kita selalu dilatih secara sosial demi tujuan yang sama ataupun berbeda secara berulang-ulang agar tercipta tubuh yang disiplin[1].

Pola tersebut terus muncul dalam cerpen lainnya seperti “Lelampak Lendong Kao” yang bercerita tentang sepasang lembu yang selalu ingin bertukar tubuh demi mendapatkan kenyamanan sosial tertentu. “Dilihatnya Raja menepuk-nepuk sepasang anjingnya…Papuq Mame cemburu. Puqen, bagaimana kalau berdoa lagi menjadi sepasang anjing?” (Bahriz,2017:12). Sepasang kerbau Papuq Ki ne dan Papuq Mame selalu dalam usaha merapal doa demi mendapatkan tubuh ideal agar selamat dari segala ancaman sosial.

Selain itu, dilema subjek-objek juga dapat diperlihatkan secara serius oleh Halim ketika tokoh rekaannya yang seorang aktif dan begitu berkesadaran penuh dalam menjaga ruang publik diatas ruang privat harus kalah ketika bertemu dengan Rani, perempuan yang meluluhlantakkan rasionalitas dan maskulinitasnya. Di warung kopi cak ipul tokoh tersebut melakukan pengakuan dosa “beberapa waktu lalu, aku rajin sekali menangis” (Bahriz,2017:46). Dalam cerita tersebut, tokoh aku digambarkan lahir dari keluarga yang menolak setiap kepala untuk bersikap cengeng, bahwa rasionalitas perjuangan adalah satu-satunya bahasa yang patut diucapakan bagi seorang anak yang dilahirkan dari rahim seorang aktivis perempuan. Namun, tubuh pun punya kejenuhan untuk dibebani dengan cara begitu, hingga banyak hal yang akhirnya diri menjadi tidak bisa dikendalikan. Hal ini semakin terlihat pada bagian dimana kedua tokoh bercumbu dimana rasion dan tubuh menyatakan kehendaknya masing-masing. Tubuh tak lagi seperti perangkat keras yang bergerak sesuai dengan perintah perangkat lunak. Serupa kode sosial yang diinstal untuk bekerja sesuai dengan script dan coding yang telah ditentukan. Tubuh memiliki jalur dan geraknya sendiri dalam mengorganisasi kehendak. Lepas dari segala organisasi sosial, menjadi tubuh tanpa organ[2] atau tubuh tanpa organisasi. Maksudnya, tubuh menjadi tidak bisa diatur dan diorganisir secara mutlak.  Hal ini bisa dilihat jelas pada skema maskulin dan feminin yang hadir pada “Ibuku seorang Lelaki” dimana seorang ayah tidak lagi mewarisi kode maskulin yang tegar, penuh perjuangan, mampu menahan air mata dan bersifat rasional namun lebih pada sikap feminin yang begitu pasrah,penurut, dan penyayang  khas perempuan domestik pada umumnya. Sebaliknya seorang ibu bisa begitu bersifat rasional, dengan mengandaikan sarana untuk bahagia hanyalah melalui langkah-langkah ekonomi-politik. “…seperti yang Mas tahu:aku sangat mencintai kalian. Tapi maaf!…Aku minta cerai, Mas!..Oh iya, ada sejumlah uang, cukup untuk membeli ponsel. Kita lanjutkan percakapan kita di telepon. Terima kasih” (Bahriz,2017:62). Penggalan surat tersebut menyatakan bahwa posisi rasional yang identik dengan maskulin telah menghinggapi tubuh yang ‘tidak semestinya’. Sebaliknya, cara kerja yang penuh perasaan, penuh emosi dan haru kasih sayang khas ibu kepada anak justru muncul pada tubuh seorang ayah yang menyarakankan anaknya untuk tidak mengutuk ibunya.

Epilog, (Dis)organisasi tubuh

Permainan tubuh dan parodi yang dihadirkan pada kumpulan cerpen ini adalah pertunjukan paradoxal tentang logika tubuh yang memilih jalannya sendiri untuk bertindak dan mengartikulasikan diri.  Kita dan khususnya saya menjadi diajak kembali pada momen untuk mengalami perpindahan tubuh dan lompatan-lompatan pertumbuhan diri yang tak terbatas pada setiap lingkup ruang sosial. Tubuh dalam “kolektor mitos” hendak mempertentangkan tubuh yang patuh, terorganisir secara kultural sekaligus tubuh yang begitu cair yang mampu keluar dari keterjebakan kode kultural walau secara statistic usaha tersebut masih boleh dibilang terlihat samar-samar. Akil baligh bisa dipinjam sebagai metafor bahwa proses mengenali dan menyadari perubahan tubuh tidak hanya terjadi secara biologis, tapi juga kultural. Gulatan dan tegangan yang terjadi pada tubuh yang dijejali kode sosial bisa saja menyerah tanpa syarat serasa mengamini perubahan yang dia tidak tahu apakah tubuh tersebut memerlukan perubahan itu. Kumpulan cerpen ini, menyepakati Zaki dan dan Irwan Bajang di laman akhir, merupakan perenungan mendalam tentang riwayat tubuh, yaitu tubuh kita sendiri yang dicengkeram secara sosial dengan gaya lelaki yang mengalami akil baligh secara repetitif namun masih dalam batas kewajaran.[]

Ghanesya Hari Murti adalah Peneliti di Matatimoer Institute

________________________________________

[1] Exercise is the technique by which one imposes on the body tasks that are both repetitive and different, but always graduated. By bending behavior towards a terminal state, exercise makes possible a perpetual characterization of the individual either in relation to this term, in relation to other individuals, or in relation to a type of itinerary.It thus assures, in the form of continuity and constraint, a growth, an observation, a qualification.Foucault, Michel 1995.Discipline and Punish Vintage Book:New York p161

[2] Tubuh tanpa organ adalah manifestasi dari hasrat, dimana hasrat menghendaki apa yang diinginkannya “The BwO is desire; it is that which one desires and by which one desires” Deleuze, Gilles and Felix Guattari.  1987, A Thousand Plateaus, Capitalism and Schizophrenia. Trans. Brian Masumi. Minnepolis : Minnesota Press,. Print p 165