Mengumpulkan Mantan dalam Kolektor Mitos; Selera Salihara

Oleh: Mohammad Sadam Husaen, Pawang Hujan siksakampus.com

 

Sebuah artikel review ataupun pengantar diskusi biasanya akan diawali dengan bahasa ndakik-ndakik ala kritikus dunia ngehek ketiga yang agaknya semakin murahan saja. Goenawan Muhamad misalnya, dia tidak akan langsung mengatakan bahwa ada sebuah karya sastra bagus yang layak dibaca. Tapi Mbah Goen akan mengajak pembacanya berputar-putar dahulu dengan bahasanya yang entah dia pelajari dari planet mana. Padahal tulisannya tersebut nantinya juga hanya akan jadi bungkus gorengan atau dijual seharga lima ribuan di depan Gramedia.

Biasanya para kritikus ngehek macam Mbah Goen akan memakai template yang tak jauh berbeda; penulis berhasil memadukan antara kehidupan sosial dan ide tantangnya dengan keterampilan mengembangkan alur cerita dengan baik. Penulis seperti berangkat dari ide abadi tentang pencarian jati diri, namun bukan dalam konteks klasik Freud maupun Lacan, melainkan dalam konteks memunculkan apa yang disebut Nietzshe sebagai ‘kehendak untuk berkuasa’. Familiar kan dengan template tersebut?

But, its juts about how to read the book, not about mbuletisme. Pembaca tak perlu diarahkan kesana-kesini dengan berbagai paragraf ad hominem. Seperti membaca kumpulan cerpen pertama milik Halim Bahriz; Kolektor Mitos. Saya tak perlu menyebut Faucoult, Ignas kleden sampai Afrizal, because generally itu hanya akan membuat saya mengalami disorientasi ketika mengomentari buku tersebut. Membaca Kolektor Mitos bagi saya adalah membaca kumpulan cerpen seorang kawan. Jika nantinya di beberapa paragraf sebelum tulisan ini selesai ada paragraf yang ad hominem, itu hanya karena saya mengenal Halim secara personal.

Kolektor Mitos saya baca secara acak, karena saya paham Halim adalah Nirwan Dewanto wanna be. Berbagai daftar kata-kata arkaik dan atau plain obscure yang sering digunakan Nirwan Dewanto, juga sering digunakan oleh Halim dalam berbagai cerpen yang sebelumya pernah dia tulis. Begitu pun dalam Kolektor Mitos, masih saja Halim bertahan dalam mbuletisme ala-ala penulis yang tidak laku di kalangan remaja hitz.

“Tak sesiapa yang bergerak. Hanya aku. Diam jadi satu-satunya cara memahami apa yang kita hadapi. Hidup jadi sebentuk kematian lain. Jenis kiamat apa yang tengah kusaksikan ini?” (Sebuah Makam dalam Cahaya, hal 6)

Saya akui tuduhan yang saya berikan pada Halim memang kurang kuat, jika kita tidak pernah membaca Nirwan dan Goenawan Muhamad. Apalagi jika yang kita baca hanya semacam motivator gagal ala Darwis Tere Liye. Paragraf-paragraf yang dibangun Halim dalam Sembilan cerpennya di Kolektor Mitos sebenarnya adalah paragraf-paragraf yang dipaksa untuk selesai. Metafora-metafora yang pengennya jadi far-fetchen malah jatuhnya obvious. Ada semacam pseudo-language yang entah sengaja atau tidak dimasukkan dalam cerpen-cerpen yang ditulis oleh Halim. Tak perlu belajar Sausurre untuk mengetahui hal tersebut. Cukup santai dan baca baik-baik Kolektor Mitos.

Jika sudah selesai membaca, ada semacam legitimasi dan paksaan dari penulis pada pembaca untuk tidak bisa tidak akan bilang; buku ini keren banget sih, tapi gak tau kenapa kok bisa jadi sekeren ini. Ya karena mungkin Halim sengaja mengintimidasi pembacanya dengan seleranya. Makanya tadi saya bilang bahwa buku ini tidak akan laku di kalangan remaja hitz.

Seobscure apapun Halim dalam kumpulan cerpen pertamanya ini, saya juga akan tetap menulis review ini. Pertama karena Halim kawan saya, kedua karena beberapa cerpen di dalamnya menyinggung kehidupan kawan-kawan yang pernah seranjang sepenghidupan dengannya dan ketiga karena saya masih jomblo. Siapa tahu dengan tulisan ini saya bisa dapet pacar. Tapi yang paling saya suka ketika membaca Kolektor Mitos adalah bagaimana Halim menyisipkan sindiran-sindiran licik pada beberapa orang yang dia dan saya kenal. Mungkin di luar sana orang-orang itu sedang mengumpat gemas dan ingin segera membunuh Halim pelan-pelan.

Seperti dalam cerpen berjudul Secangkir Cincin. Nama-nama tokoh yang dimunculkan Halim dalam cerpen itu adalah nama yang benar-benar ada di dunia nyata. Macam Mardi Luhung, Afrizal Malna, Goenawan Mohammad, Niwan Dewanto, Ayu Utami dan beberapa yang lain. Halim menyisipkan sindiran liciknya kepada nama-nama tersebut melalui sifat serta kelakuan yang tergambarkan dalam cerpennya tersebut.

“Hallo… Aku penasaran dengan caramu meracik kopi. Tenanglah. He…” sembari mengelus gundulnya, iya bicara lagi, “Apakah aku mengganggu?”

“Ngapain Pak Malna di sini? Saya bisa kena marah! Tolong, jangan mempersulit saya. Tunggu di Meja. Sepuluh menit lagi semuanya akan beres.” (Secangkir Cincin, Hal 34)

Juga dalam Cerpen Kepulangan Terakhir, kehidupan seorang aktivis mahasiswa yang mungkin akan menyinggung beberapa orang di sekitar Halim termasuk juga saya secara pribadi dalam urusan per-kenthu-an. Tapi walaupun begitu, Halim tetaplah Halim. Saya mengenalnya sebagai seorang penulis yang suka sok nyleneh, maunya hiperbol selalu, dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi tema-tema cerpen dalam Kolektor Mitos sebenarnya adalah tema-tema yang gampang sekali kita temui. Bahkan saya lebih suka menyebut kumpulan cerpen milik Halim ini sebagai Kolektor Mantan. Saya menemukan berbagai macam mantan dalam kesembilan cerpen yang ada dalam Kolektor Mitos. Ada mantan tubuh dalam cerpen Sebuah Makam dalam Cahaya dan Lelampak Lending Kao serta kolektor mitos. Ada Mantan Pacar, Mantan teman seperkenthuan dalam cerpen Kepulangan Terakhir dan Perempuan yang Diutus kematian juga 20 Tahun dari Curam Kenangan. Ada mantan orang tua dalam Ibuku Seorang Lelaki.

Kumpulan cerpen pertama Halim ini begitu penuh dengan masalah per-mantan-an. Jika reviewer yang lain sibuk dengan berbagai teori dan nama-nama orang intelek yang sulit disebutkan namanya. Saya lebih suka menganggap bahwa Halim sebenarnya sedang mengumpulkan fenomena per-mantan-an yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi tentunya diracik menjadi cerpen dengan bahasa yang post-GM-Nirwan Dewantois lah. Menyebut Halim sebagai Afrizalian sepertinya hanya sebuah bentuk cita-cita yang kerap gagal. Saya lebih condong menyebut Halim menempuh jalan menulis menuju salah arah, eh maksud saya salihara.

Dan saat Halim disebut-sebut sebagai penulis yang Afrizalian dan highbrow logika tubuh. Apakah hal tersebut adalah sebuah tanda bahwa referensi para pembacanya atau bahkan Halim sendiri hanya sekedar pajangan dalam tulisan saja? Atau sekaligus tanda bahwa Kolektor mitos adalah sebuah kumpulan cerpen yang memang seharusnya dijual murah di pasaran agar bisa diakses oleh para remaja hitz dan bukan hanya bisa diakses oleh para saliharais?

Terakhir, terlepas dari Halim dan cerpennya. Gambar sampul Kolektor mitos sepertinya dipaksakan untuk segera selesai, karena beberapa anatomi belum tergarap sempurna. Terlihat jelas pada bagian kepala yang tergeletak, bukan lebih mirip kepala malah lebih mirip topeng usang yang tak pernah terpakai. Mungkin pembuat sampulnya seorang modiglianis, sama seperti Halim yang Nirwan Dewantois.

 

poster-halim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s