Ekstra Media: Bias Kasus Ita Martadinata

acd05fcc2231fcf4f913ced5ddfc742d

Yongky Gigih Prasisko
(Peneliti di Matatimoer Institute)

            Selasa 6 Oktober 1998, digelar jumpa pers dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK), tentang kasus kerusuhan Mei 1998, yang turut dihadiri oleh wakil-wakil media internasional. Dalam jumpa pers tersebut para relawan mengutarakan berbagai ancaman yang menderanya. Ancaman yang dimaksudkan supaya mengurungkan niat mereka untuk membantu pengusutan peristiwa Mei 1998 oleh badan-badan internasional. Mereka siap untuk mengirimkan wakilnya untuk memberikan kesaksian kepada dunia internasional tentang berbagai tindak kejahatan yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998. Salah satu wakilnya bernama Martadinata Haryono, atau lebih dikenal sebagai Ita Martadinata.

Pada saat itu Ita Martadinata berusia masih belia, 18 tahun. Ia juga masih berstatus sebagai siswa SMA. Ita adalah seorang korban perkosaan yang berhasil merajut kembali sebagian jati dirinya dan bersama ibunya bergabung dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan untuk membantu korban (perkosaan) yang mengalami gangguan jiwa yang lebih parah. Setelah jumpa pers tersebut Ita berencana akan memberikan kesaksiannya di hadapan kelompok internasional pembela Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat. Ia akan berangkat bersama rombongan yang dipimpin Karlina Supeli.

Naasnya, tak sampai pada hari keberangkatan, tiga hari setelah jupa pers tersebut, Jumat 9 Oktober 1998, Ita Martadinata ditemukan tewas dalam kondisi yang mengenaskan. Kepala korban hampir putus terpotong pada lehernya. Ada sepuluh bekas tikaman pada perut, dada dan lengan kanannya.

Opini mulai mengarah pada pembuktian ancaman kepada para relawan, dan memiliki motif politik yang kuat. Namun ternyata media berhasil membiaskannya. Albert Hasibuan dari Komnas HAM, dalam wawancaranya dengan AFP, mengatakan pembunuh Ita ada kaitannya dengan tokoh-tokoh penguasa yang cenderung menyangkal bahwa perkosaan massal itu pernah terjadi. Pada malam hari itu juga diberitakan bahwa polisi telah menangkap seorang tetangga Ita Martadinata, yang bernama Suryadi. Ia kedapatan menyimpan perhiasan yang sering kelihatan dipakai Ita serta pakaian dengan noda darah Ita. Opini kemudian mengarah kepada motif perampokan. Sama sekali tak ada unsur politik. Diberitakan juga bahwa polisi turut menemukan alat suntik di bawah tempat tidur Ita. Rupanya Ita adalah seorang pengguna narkoba. Laporan media Suara Pembaruan menyebut bahwa dari hasil otopsi ditemukan bukti-bukti terjadinya sodomi. Psikolog dari pihak kepolisianm Sarlito Wirawan menjelaskan bahwa pelaku panik karena tidak menyangka Ita ada di rumah. Karena panik, pelaku lalu menyerang korban. Sarlito kemudian membenarkan dugaan bahwa Ita adalah pemakai narkoba.[1]

Tekanan Etik-Poitik Membiaskan Media

            Pada waktu itu, isu perempuan tidak masuk dalam agenda reformasi. Ketika ada kasus yang melanda perempuan, seperti perkosaan dan pelecehan seksual, media kurang begitu menyorotnya sebagai kasus bermotifkan politik. Bahkan pada awalnya kasus perkosaan pada perempuan selama kerusuhan 1998, tidak diakui adanya, terutama oleh Negara. Di suatu siang di TV, Jenderal Wiranto menyatakan, “Saya sudah mngunjungi beberapa rumah sakit, termasuk di Penang, tetapi saya tidak menemukan korban perkosaan, maka tidak terjadi perkosaan di tengah kerusuhan.” Juga, meskipun ternyata diakui ada, ia kurang mendapat prioritas perhatian. Ketika Saparinah Sadli berserta rombongan relawan perempuan menemui presiden Habibie, pak Habibie menyatakan, “Banyak persoalan penting lain, terutama persoalan ekonomi, yang harus saya tangani.” Namun pada akhirya, sang presiden berhasil didesak untuk memberikan pernyataan resmi, dengan mengutuk aksi kekerasan pada peristiwa kerusuhan, termasuk kekerasan terhadap perempuan. Tindak lanjutnya adalah dibentuknya TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) terutama pada kasus kekerasan pada perempuan (violence based gender). Data TGPF hingga 3 Juli 1998 menyebut korban pemerkosaan dan pelecehan seual yang melapor sebanyak 168 orang. Di Jakarta 153 perempuan jadi korban pemerkosaan, 20 diantaranya meninggal dunia.[2] Namun ketika temuan TGPF diturunkan, tak ada menteri yang hadir, sehingga temuan tersebut tak mendapat perhatian publik yang layak. Akibatnya sampai sekarang masih ada kalangan masyarakat yang meragukan terjadinya perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998.

Keraguan tersebut juga dipengaruhi karena kode etik korban perkosaan tidak boleh dimunculkan identitas sebenarnya di media. Serta secara politik, kasus kekerasan terhadap perempuan kurang menjadi pertimbangan dalam agenda besar perubahan politik reformasi 1998. Dalam pemberitaan media, upaya konfirmasi tentang adanya korban perkosaan dan kekerasan seksual pada perempuan gagal dan menjadi sebatas desas-desus saja. Kegagalan media ini kemudian dimanfaatkan para pejabat pemerintah dengan menyatakannya sebagai kabar bohong belaka.

Kasus Ita Martadinata mengalami depolitisasi dan disimpulkan sebagai kasus kriminal biasa. Media berdasar pada keterangan polisi turut membenarkan kesimpulan bahwa kasus Ita adalah murni perampokan. Pemberitaan kasus Ita Martadinata menjadi bias karena turut dipengaruhi oleh dinamika politik pada saat itu. Serta kasus tersebut turut menggambarkan bagaimana posisi perempuan sebagai posisi yang rentan dalam kerusuhan, pada akhirnya kurang mendapat advokasi media. Ada ataupun tidak kasus yang menimpa perempuan dianggap tidak akan memberikan efek signifikan terhadap riak politik pada waktu itu. []

 

[1] Narasi dan data didapat dari buku Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan, ditulis oleh Dewi Anggraeni.

[2] Data berdasar pada pemaparan Stanley Adi Prasetyo (ketua Dewan Pers) dalam acara Media dan Perempuan Tionghoa, 20 Mei 2016

 

 

Sumber Foto di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s