Terkuburnya Musholla Pak Mul

Karya Ibnu Wicaksono

55ec44726ac076200994871a9f4a7890
“Murid-muridku sik eling asale, sik eling baline. (Murid-muridku, masih ingat asal dan pulang),” ujar Pak Mul dalam hati, pada tiap subuh.
Memang, semestinya kita meletakkan ingatan pada masa mungil kita, pada muara tawa paling jujur. Di sanalah tempat bermukimnya segala yang mula.
Sepuluh tahun silam, belasan anak di sebuah kampung, kira-kira seusia anak sekolah dasar, selalu berjingkrak-jingkrak sehabis senja. Bila bersaudara, mereka akan berebut mandi. Bergegas berlari, menuju sebuah musholla kecil di sudut kampung, hanya untuk berebut menjadi muadzin. Ketika Muadzin sudah terpilih atas kecepatan waktu, selanjutnya ada beberapa anak mendekatkan mulutnya pada sebuah mikropon, memastikan suaranya terserap dan keluar sebagai lengkingan merdu di sebuah corong TOA yang dikibarkan pada sebuah bambu di depan musholla. Ibuku di rumah pasti mendengar suaraku, pikir hampir semua anak.
Sehabis Magrib, mereka tidak lekas pulang. Mereka akan belajar mengaji pada Pak Mul. Melingkar dalam ruangan, mengeja huruf hijaiyah, membenarkan tajwid, hapalan do’a dan lain-lain. Sebenarnya mereka tidak senang dengan aktivitas mengaji, tetapi ini adalah keinginan orang tua dan Pak Mul selalu punya cara membuat anak-anak senang. Misalnya, bila Pak Mul melihat anak-anak tampak lesu, Ia akan bergegas mencari ide, seperti meminta tolong untuk diidek-idek (diinjak-injak bagian tubuh, mulai dari punggung, sampai ke telapak kaki). Satu murid akan pergi ke ruang yang biasa ditempati perempuan untuk sholat. Wahyu, seorang murid idola Pak Mul dalam idek-idek, selalu memberi rasa tenang dan nyaman pada tiap injakannya, Murid yang lainnya berpura-pura khusyu’ sebentar, kemudian bila Pak Mul sudah keenakan sampai-sampai dapat tertidur, anak-anak akan berteriak merdeka dari segenap pengawasan. Mereka dapat bergurau sesuka hati, bermain Abece, tepuk nyamuk dan permainan musiman lainnya.
Di setiap jeda-jeda pejam matanya, Pak Mul berteriak dari posisi tidurnya. “Lhooh, kok nggak enek seng ngaji iki? Ndi suarane? Malah rame dewe. (Kok nggak ada yang ngaji, mana ini suaranya? Malah rame sendiri!) Woi!” teriak Pak Mul. Anak-anak bergegas melafalkan ayat-ayat sebisanya. Bersahut-sahutan. Sampai Pak Mul kembali tenang dalam injakan kaki demi kaki. Karena apabila Pak Mul marah, anak-anak akan dipukul dengan penjalen, atau sebatang bambu dengan diameter tak lebih dari setengah senti.
Pernah suatu ketika,. Haki, salah satu anak yang sering dimarahi. Dituduh Pak Mul sebagai biang keramaian. Maka, saat itu, Haki disuruh duduk di tengah lingkaran kami, seperti terdakwa dalam sebuah pengadilan, menjadi pusat perhatian. Pada saat itulah, Haki akan menjadi anak paling kesepian, ia harus mengaji sampai adzan isya’. Karena memang dasar anaknya nakal, Haki membikin ulah, ia mengajak bercanda anak-anak dalam lingkaran. “Hak, kok angel yo ngandani kowe? (kok sulit bener menghadapi kamu, ya)” pekik Pak Mul. Satu samblekan penjalen pun melayang pada punggung Haki. Ia bersuara tidak terlalu keras, tetapi hampir semua teman-teman yang lain pasti dengar. “Huuuh, Mesti aku (kenapa selalu aku?),” itulah ucapan yang seringkali dilayangkan Haki pada setiap punggungnya terkena samblekan.
Pak Mul juga selalu menjadi evaluator yang tekun. Apabila dia menjadi imam dan pada saat sholat terdengar sangat gaduh karena ulah murid-muridnya, seperti cekikikan kecil, suara mendorong tubuh, pukul-memukul dan lain-lain. Usai sholat, Pak Mul tidak akan melanjutkan dengan wiritan, dia akan menginterogasi murid-murid. Siapa yang membuat gaduh akan mendapat satu samblekan. Apabila tidak ada yang mengaku, semua anak akan mendapat samblekan. Lalu, selepas itu, wiritan kembali digelar sampai pulang, bersalaman sambil melantunkan sholawat.
Kadangkala, Pak Mul juga tidak menyuruh anak-anak mengaji apabila ia menemukan wajah-wajah kusut pada hampir seluruh muka muridnya, mungkin ini gara-gara mereka bermain seharian. Lalu, dalam hitungan detik. Satu, dua, tiga detik. Dappp…!!! Pak Mul akan menawarkan hal lain, seperti hapalan surat, tiba’an, dan lain-lain. Sontak, wajah-wajah yang tadinya terlipat kusut, menjadi perlahan ditumbuhi senyum dan menjadi girang tak tertahan. Hore!!! Yesss!!! Yuhuuyy!!!!
Istri Pak Mul juga memiliki ragam cara untuk mengambil hati murid. Ia adalah perempuan yang pandai merayu dan memuji. Sampai-sampai, apabila berada di hadapannya. Anak-anak akan berusaha menunjukkan tampilan paling menarik agar mendapat pujian. Misalnya, ketika datang ke musholla, anak-anak yang datangnya paling awal akan bergegas disebut-sebut, dipuji sampai anak tersebut menjadi putri malu.
Apabila pada sebuah kesempatan, hanya sedikit anak-anak yang datang mengaji, sekitar 4 sampai 6 anak saja. Istri Pak Mul akan memberikan beberapa lembar uang untuk mereka yang datang. Dan, hari esok yang terjadi, banyak anak yang akan berangkat.
Istri Pak Mul sudah memiliki cucu waktu itu. Cucunya juga menjadi salah satu murid, seringkali cucunya cemburu apabila istri Pak Mul memuji anak yang lain. Adu mulut pun juga sering terjadi antara cucu dan istri Pak Mul. Namun, di lain sisi, istri Pak Mul selalu saja memiliki cara untuk membuat anak-anak betah menjadi penghuni musholla sampai mengkhatamkan Al-Qur’an.
Kami memahami betul bagaimana pola imam di musholla Pak Mul. Apabila imam sholat Magrib adalah Pak Tik, sudah dipastikan imam sholat Isya’ adalah Pak Mul. Begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan saban subuh. Biasanya Pak Mul selalu menjadi alarm alami bagi kami yang tidur terlelap. Mulai dari kumandang tarhim, adzan sampai sholawat selepas doa bersama selalu berisi suara Pak Mul. Kami dapat memastikan jumlah orang di musholla hanya dengan mendengar suara mereka. Biasanya kalangan sesepuh yang selalu hadir pada jamaah subuh. Seperti Mbah Wo, Pak De Adek, Mbak Lah, Pak Tik, Mbah Ni, Pak Tik, Pak Mul dan istri Pak Mul. Apabila suara adzan dikumandangkan oleh Pak Mul, sudah dipastikan Pak Tik yang menjadi imam, kecuali Pak Tik berhalangan untuk hadir. Maka jabatan imam akan diberikan kepada orang lain, tidak lain adalah Pak Mul dengan menyuruh orang lain untuk mengumandangkan iqomah. Selalu begitu, dan subuh adalah suasana yang mengantarkan kita pada nuansa gigil, membuat tubuh keenakan dimanja empuk kasur.
Bila Bulan Ramadhan tiba, musholla akan bergegas diperbaiki, mulai pengecatan, bersih-bersih, renovasi atap, ganti mikropon dan lain-lain. Hal yang paling digemari murid-murid adalah ketika ada bersih-bersih, di mana mereka dapat bermain prosotan, sambil mengepel lantai, siram-siraman air dan kejar-kejaran. Sepertinya Pak Mul memahami hal ini, dia tidak pernah memarahi muridnya saat mereka bermain dengan air, kecuali apabila air itu sampai membasai Al-Qur’an. Pak Mul akan marah besar.
Sepuluh hari pertama puasa, terutama hari pertama, muholla Pak Mul akan dipadati oleh orang-orang yang ingin mengikuti ibadah sholat tarawih. Mereka akan berebut shaf paling depan, tentu berbeda dengan murid Pak Mul yang mengidolakan berada pada shaf belakang. Usai sholat tarawih, anak-anak akan berebut untuk menjadi pendahulu pembaca Al-Qur’an. Mereka beranggapan berangkat ke mushola yang sah pada bulan puasa adalah apabila sudah melaksanakan tadarus.
Takjil dari warga, mulai dari gorengan, es campur, buah-buahan dan ragam jenis lainnya tidak pernah absen pada tiap malamnya. Karena apabila tidak ada warga yang memberi, Istri Pak Mul selalu memberi pisang atau kacang kulit. Pada saat takjil datang, anak-anak bergegas menjadi ribut, walaupun mereka telah memiliki peraturan tak tertulis, bahwa anak-anak yang sudah melaksanakan tadarus saja yang diperbolehkan mengambil takjil.
Pertengahan bulan, jamaah sholat tarawih akan menyusut. Yang biasanya ada gelaran karpet di halaman depan musholla, ini tidak akan terjadi lagi, karena jamaah hanya cukup ditampung di musholla saja. Berbeda dengan minggu pertama dan hari-hari akhir. Semua orang memadati musholla sampai membawa tikar sendiri.
Setidaknya, itulah sedikit banyak tentang gambaran mushola Pak Mul sepuluh tahun yang lalu. Hari ini, anak-anak yang mengaji telah habis. Dapat dikatakan ada pun paling banyak berjumlah 5 anak. Pak Mul sudah tidak dapat berjalan dan menjadi imam lagi. Dia harus sholat dengan posisi duduk. Umurnya semakin berisi. Tapi istrinya masih memiliki otot besi.
Hari ini, musholla seringkali sepi, seringkali tidak ada aktivitas mengaji. Anak-anak kecil tidak ada yang berminat mengaji. Mereka lebih gemar mengikuti les privat pelajaran atau sekedar menghabiskan waktu petang untuk bermain, sebelum istirahat. Suara Pak Mul masih menjadi alarm pembangun orang-orang saat subuh. Jamaahnya sudah sedikit. Mbah Wo sudah meninggal. Mbah Ni juga kadangkala tidak hadir.
Hari ini, alumni murid-murid Pak Mul telah tersebar di beberapa kota. Andre, yang pernah menyumbang rokok saat puasa dan 7 buah Al-Qur’an bekerja di luar kota. Haki, murid yang selalu jadi biang keramaian juga menghadapi hidup di luar. Dia menjadi pekerja kantor. Wahyu juga demikian, merantau di pulau lain, barangkali idek-idek-nya masih diminati banyak orang, tetapi Pak Mul sudah tidak pernah merasakannya. Karena anak-anak sudah menjadi makhluk dewasa. Bagus, muadzin idola istri Pak Mul, sudah memiliki anak. Istri Bagus juga sudah mengandung lagi. Lalu, Wijak, murid Pak Mul yang acapkali menangis karena ketakutan diajari Pak Mul sudah jarang pulang, sesekali membantu Bapaknya di sawah. Itupun dapat dihitung dengan jari satu tangan. Semua murid-murid Pak Mul sudah tidak pernah berkunjung ke musholla. Ada yang berkunjung pun itu hanya beberapa orang saja dan tidak sering.
Istri Pak Mul sudah memiliki dua cicit. Dia juga memiliki kegemaran lain sekarang, yaitu pada selepas adzan, dia akan mengambil mikropon dari muadzin, ia melantunkan doa sesudah adzan dengan sangat percaya diri.
Hari ini, musholla Pak Mul menjadi sepi. Tetapi Pak Mul meyakini betul murid-muridnya yang sudah tersebar di mana-mana itu tidak akan dapat melupakan mushollanya. Musholla itu akan menjadi museum dalam diri mereka, musholla itu akan terkubur dalam-dalam pada setiap relung paling dalam.
“Murid-muridku sek eling asale, sek eling baline. (Murid-muridku, masih ingat asal dan pulang),” ujar Pak Mul dalam hati, pada tiap subuh.[]

Jember, 17 April 2017

Sumber gambar : di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s