Napoleon Wicaksono

Oleh: Achmad Ulul ArchamTha
(Makhluk Teater Gelanggang)

IMG_2947

Saya berfikir maka saya ada (menurut orang, ini terjemahan dari cogito ergo sum), Rene Descartes. Logika peng-ada an untuk menunjukkan kehadiran. Penunjangnya menggunakan sarana berfikir. Seorang bernama Ali Antoni bersembunyi dalam karakter Dolob, mengatakan “stop berfikir positif apalagi negatif’.

Kutipan yang saya ambil dari dua orang tersebut tidak ada hubungannya dengan pembahasan di dalam tulisan ini. Setidaknya terlihat bagus sebagai pembuka. Dan tampak menarik, elegan, keren, dan seperti ‘pengutip’ handal. Karena menghadirkan tokoh-tokoh (yang dianggap) terkenal.

Saya katakan sekarang, bahwasanya sesungguhnya sebenar adanya ini mengenai Diskusi cerpen karya Ibnu Wicak (sono). Judul “Leluhur Menur”. Menghadirkan Ghanesya Hari Murti[1] sebagai Pembicara, tentunya si Ibnu yang menganggap dirinya penulis cerpen dihadirkan. Acara digagas Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMASIND) dalam event bernama Diskusi Sastra (Baca juga: Bedah Cerpen Leluhur Menur ).

***

Hadirnya tokoh-tokoh dalam cerpen bergerak untuk saling timbal balik mengisi ruang-ruang kosong penceritaan. Menur, Janoto, dan Kantil. Leluhur (ditandai kehadirannya sebagai ‘aku’ dalam wujud Roh), dia bisa dikatakan tokoh atau tidak. Mas Ghanesy menggunakan paradigma Bachtin untuk melihat tokoh-tokoh dalam cerpen.

Pemunculan Tokoh Utama.

Setiap pembaca berhak untuk memberikan pembacaan pada sebuah karya. Tidak melulu menunggu kebenaran yang disampaikan oleh penulis. Penulis memiliki otoritas, begitupun pembaca. Supaya tidak terpengaruh oleh pemaknaan utuh pengarang, maka pelu ditiadakannya penulis. Menurut Barthes, perlu ada pembalikan mitos. Untuk memunculkan menghidupkan atau melahirkan pembaca harus diiringi dengan kematian pengarang. Bukan mati seutuhnya, mati secara wujud fisik maupun mati ideologis. Hal itu tetap akan muncul. Setidaknya kesampingkan dulu pengarangnya, taruh sejenak di sebelah gelas kosong atau sendok sisa mengaduk mie seduh. Biar tidak mengganggu orang membaca. Jika tidak ditaruh, makna hanya tunggal yang dimunculkan dan diinginkan pengarang.

Seorang audien mempertanyakan penjelasan mas Ghanesy. Bahwa tidak ada tokoh utama di dalam cerpen Leluhur Menur. Oleh si penulis, tokoh-tokoh dihadirkan memiliki keberimbangan ideologis. Pola pikir serta penyaluran pandangannya setara. Tidak ada dominan tunggal. Bisa saling mendominasi atau dominasi bergilir. Kok bisa, ndak ada tokoh utama. Padahal di ruang kuliah, telah ditekankan bahwa tokoh dibagi menjadi dua, tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh penting dan tokoh pelengkap. Ya, setidaknya dengan biner semacam itu.

Mas Ghanesy dengan acuan Bachtinnya mengatakan tidak melulu harus muncul tokoh utama. Tokoh utama harus memiliki kemandirian berfikir. Tidak banyak digerakkan atau dipengaruhi oleh tokoh-tokoh lain. Bahasa lainnya ‘dikendalikan’. Seorang tokoh yang banyak dikendalikan tokoh lain, ‘tidak layak’ disebut tokoh utama. Kedudukannya menjadi setara.

Sedangkan pertanyaan audien mengenai tokoh utama, dipengaruhi oleh proses tanam pengetahuan di ruang kuliah. Menurut Dosen anu, Tokoh utama biasa ditenggarai dengan kehadirannya di awal. Di awal, ini bisa bermaksud judul.

Mengenai penyimpulan ada atau tidaknya tokoh utama, bergantung pada sisi pandang mana yang digunakan. Dengan kemandirian berfikir, bisa tidak ada tokoh utama. Sedangkan pandangan lain, seperti tokoh utama merupakan tokoh yang paling sering muncul. Salah satu penanda munculnya, disebut atau ditulis paling banyak. Jadi, bergantung paradigma mana yang dipilih untuk menentukan.

Bahasa bukan alat tukar tambah informasi, melainkan alat tukar kekuasaan.(Ghanesy)

Hubungan Realisme dan magis.

Keterikatan Janoto dan Menur diceritakan sebagai manusia pacaran. Konstelasi yang belum tercapai untuk duduk di ruang peng’utuh’an, menikah. Menikah oleh masyarakat sudah dianggap peresmian sebuah hubungan.  Hingga pengadaannya melalui prosedur-prosedur. Entah keagamaan, adat istiadat, hingga negara ikut andil. Gilak, menikah saja harus dirasuki hal-hal macam begitu. Supaya buah yang dihasilkan dari hubungan pohon dan tanah bisa diakui dan dipertanggungjawabkan legalitasnya, secara halal, hukum, dan budaya. Peristiwa menikah memang tidak ditampakkan langsung oleh penulis di dalam cerpen.

Anggap saja, ini sisi magis di antara sisi realis yang ditampilkan Ibnu si penulis binal[2] ditengah perkumpulan realis. Bukan begitu?.

 “Kita semua tahu dengan kemeriahan Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu, BEC, dan lain-lain. Sampai-sampai ritual sakral menjadi tontonan, di mana tradisi tolak bala itu menjadi wisata. Banner diberdirikan di mana-mana, padahal ini adat, bagaimana kesakralan yang ada ketika orang-orang mengunjungi tradisi itu dengan menganggap sebagai wisata kesenian?” (Leluhur Menur)

Sisi pertemuan realis dan magis tampak dalam menceritakan sebuah tradisi tari, pakaian, maupun musik sebagai media di antara ritual sakral dan destinasi wisata. Seperti ritual penolak bala, untuk menghadirkan nuansa dan unsur-unsur magis sebagai hubungan dengan roh-roh. Sebuah pengakuan-pengakuan pada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata (pengetahuan). Hal ini, bisa menjadi berbeda di mata negara. Sebuah aset untuk memperoleh penghasilan dan menunjukkan eksistensi. Sehingga dibentuklah wisata kesenian.

Kegiatan semacam ini, bagi masyarakat pelaku dirasakan sebagai rutinitas. Dikala begini, maka harus begitu. Pada saat tanggal atau bulan ini, yang harus dilaksanakan adalah kegiatan ini. Misal, pada bulan Suro kegiatannya sebagai tolak bala, penyucian. Tidak bisa, kegiatan bulan Suro dipindah ke bulan lain. Dengan alasan ‘magis’ sedemikian rupa. Bagi negara, hal ini tidak akan diperhitungkan. Asalkan ia unik, terjual, laku keras, serta mendatangkan keuntungan yang banyak, sah-sah saja untuk ditempatkan di mana pun saja.

Terdapat dua cara pandang berbeda dalam melihat sebuah objek. Pandangan negara mengenai tradisi bisa ditolak oleh para pelaku kegiatan. Ritual sakral kok dijadikan tontonan, dijual pula. Begitu pula negara menolak cara pandang orang-orang pelaku. Setiap kegiatan membutuhkan dana yang tidak sedikit, jangan sampai tidak memberikan pemasukan. Sampai-sampai harus bisa untung, banyak.

 

Apakah kedua hal itu tidak bisa bertemu?.

Bisa. Oleh penulis dihadirkan dalam tokoh Janoto. Seorang mahasiswa dan juga aktivis. Menolak kapitalisasi negara atas ritual-ritual sakral milik masyarakat. Dilihat dari status sosial, seorang mahasiswa merupakan bagian dari media yang diciptakan oleh negara, yakni kampus. Secara langsung ia menjadi bagian dari negara. Namun, ia melakukan penolakan atas perlakuan negara pada ritual. Keberpihakkannya ditujukan pada ‘penyakralan’ sebuah ritual. Janoto tetap tidak bisa sampai pada tahapan pemertahanan ritual sakral seutuhnya di tengah gempuran negara. Begitupun dengan menjadi negara seutuhnya untuk mengkapital ritual. Janoto hanya hadir sekilas.

Negara menjual ritual-ritual sebagai pesona pariwisata.

Keinginan mendudukkan realis dan magis pada satu ruang dan waktu. Leluhur dan Menur serasa hadir bersamaan. Mereka tetap tidak bisa benar-benar bertemu. Masih ada wilayah yang menjadikan keterpisahan itu muncul. Bukan berarti menur dan leluhur tidak bisa dipertemukan atau dipersatukan. Peristiwa penyatuannya dibuktikan penulis dalam membentuk judul, ‘leluhur menur’. Apa sih, yang tidak bisa dilakukan ilmu pengetahuan, dalam hal ini bahasa. Apalagi Cuma realis dan magis. Namun, pertemuan itu sebatas momentum, sekilas, sak crit. Berupa Judul. Di dalam cerita tetap terjadi perpecahan-perpecahan, benturan sana-sini, chaos.

Menur dan Leluhur memperebutkan seorang tokoh bernama Janoto.

Logika yang digunakan untuk memandang realis dan magis.

Realis : bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan secara empiris, logis, dan objektif.

  • Ilmu pengetahuan, mengunggulkan kemampuan logika.
  • Paradigma modern.

Magis : sesuatu yang tidak mampu dijangkau ilmu pengetahuan.

  • Tidak masuk akal
  • Oleh orang modern disebut ‘ilmu’ tradisional.

Kemudian memisahkan keduanya dan mencari penyatuan. Tapi belum selesai, masih dipertanyakan lagi mengenai penyatuan dan pemisahannya. Orang-orang banyak mengatakan kejadian ini medan semantis. Apa itu medan semantis? Ya, itu tadi dan begitulah.

 

Penaklukan

Ibnu Wicaksono menceritakan proses kreatif terbentuknya cerpen Leluhur Menur. Bermula dari liputan seorang Pimpinan Redaksi sebuah majalah berjuluk Niskala di Banyuwangi. Tentunya banyak desa, dusun, RT, RW, rumah, maupun kecamatan yang dikunjungi.

Beberapa daerah ‘terpaksa’ ia samarkan. Entah kenapa ia memilih jalan itu. Mungkin untuk membedakan bentuk liputan dan tambahan imajinya menjadi cerpen. Atau untuk melindungi dari indikasi-indikasi.

Terdapat cerita menarik mengenai seorang nenek yang ketakutan saat ditanyai oleh reporter ‘merimbun’. Pada saat si nenek mencari genjer dan si reporter berkalung kamera. Si nenek takut tertuduh dan si reporter seperti dituduh. Ya, kemudian terselesaikan dengan transaksi jual beli genjer diantara keduanya. Perisitwa tertuduh dan dituduh setidaknya terselesaikan.

Dikarenakan pengangkatan cerita-cerita di Banyuwangi, muncul pertanyaan dari audien. Seorang mahasiswi berasal dari Banyuwangi. “Apakah ada keinginan dari Mas Ibnu dari cerpen Leluhur Menur untuk mengubah Banyuwangi?”

“Saya hanya seorang Ibnu Wicaksono, bagaimana saya bisa mengubah Banyuwangi yang luas?. Menaklukan hati wanita Banyuwangi saja saya belum mampu”.[]

 

[1] Peneliti Matatimoer Institute

[2] sebutan ini digagas Yuda La Tahzan, aktor teater yang pernah pentas dengan aktor Amerika bernama Ari Rudenko dan Aktor Madura Anwari. Kemudian Yuda mendirikan komunitas yang terpaksa menyebut dirinya nomaden karena tidak punya tempat yang tetap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s