TELAGA JABAT TANGAN

Cerpen: Ibnu Wicaksono

33emoji-jabat-tangan

 

Jabat tangan seringkali menjadi peristiwa pelunasan sebuah perpisahan yang amat dalam. Tentu, pertemuan adalah jawaban atas segala rindu yang tak lebih dari lima detik akan bergegas sirna. Setidaknya, selama beratus-ratus tahun lamanya, tradisi jabat tangan di Kampung Balung, sebuah kampung yang boleh dikatakan mungil, telah menyebar tradisi jabat tangan sebagai peletakan kehormatan atas pertemuan dari perantauan, perpisahan atau jenis-jenis tatap muka yang lain.

Orang-orang di Kampung Balung hidup di atas tanah leluhur yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Bagi mereka, jagongan dengan sesama tetangga adalah peristiwa paling penting daripada ibadah rohani, mencari uang, mencuci baju atau mengeringkan padi. Sejak kakek-nenek mereka kecil, kampung mereka telah menjalani hidup sebagai tempat bermukimnya manusia dengan jiwa kemanusiaan yang amat tinggi.

Itu pertama kali kesanku mengunjungi kampung yang murung ini. Aku telah bertemu dengan Pak Di, seorang tukang kebun yang harus aku wawancarai. Padanya-lah, aku bergegas tahu tentang dongeng ‘telaga jabat tangan’. Berikut adalah hasil wawancaraku, yang telah kutuliskan dengan gaya prosa.

Sekali lagi, ini adalah nostalgia paling hiperbola sejak saya telah tumbuh menjadi cucu-cucu mereka yang entah keturunan ke berapa. Hari ini, saya telah tumbuh sebagai tukang kebun di sebuah sekolah menengah atas, di mana tetangga-tetangga saya tidak mau tahu apa-apa tentang saya, hanya akan takjub atau memberikan penghargaan atas nama moral ketika saya mampu membeli sepeda motor, televisi, kulkas atau materi-materi lain. Sudah tidak saya jumpai lagi bagaimana ‘tradisi jabat tangan’ yang hanya menjadi dongeng: cerita saban senja di sebuah pelataran rumah Pak Lan, semasa saya masih kecil dulu.

Maka, saya layangkan kisah ini padamu, agar kalian tahu bahwa kampung kami pernah memiliki memoar yang tak pernah tercatat di museum atau catatan-catatan sejarah di instansi manapun. Usai menyapu halaman sekolah, membersihkan lantai kelas, mengecek kamar mandi dan memastikan tak ada lagi siswa yang menghuni lingkungan sekolah, saya mengunjungi sebuah warung nasi pecel kecil, tapi sangat terkenal, Warung Mbok De Sah. Sebenarnya saya sudah seringkali berkunjung ke warung Mbok De Sah, meski hanya sarapan, ngopi atau sekedar menghabiskan waktu. Tapi kali ini berbeda, saya telah berjanji dengan seorang reporter dari kota, entah atas kepentingan apa.

            Aku jabat tangan Pak Di dengan segala kesantunan yang kumiliki. Senyumnya gurih, tulus dan penuh keramahan. Pelupuk matanya amat meneduhkan. Langsung kutanyakan padanya: Mengapa di sini ada Telaga Jabat Tangan? Aku harus mewawancarainya.

            Saya tak menjawab dengan gegas pertanyaannya. Saya pesankan secangkir kopi dengan berbasa-basi sebentar, saya perhatikan tubuhnya. Sepertinya orang baik. Saya juga tidak menemukan jejak-jejak asing dalam wajahnya, tetapi saya tetap waspada.

Telaga Jabat Tangan itu telah menjadi dongeng dan saat ini pun anak-anak kecil juga tak sedikit yang tahu. Mereka lebih memahami bagaimana bermain game di layar android berlayar tujuh inchi daripada mendengarkan ocehan-ocehan orang tua, semacam saya. Anak-anak kecil lebih suka menonton kartun pada tv kabel, melihat video pada galeri ponsel sampai menghapalkan lagu-lagu paling hits yang telah tersebar begitu cepat.

Kubiarkan Pak Di bercerita, sepertinya Pak Di memang suka bercerita tanpa menutup-nutupi, kubiarkan mulutnya berkomat-kamit tiada henti. Sepertinya ia ingin mengisahkan peristiwa masa lalu yang amat penting untuk segera kucatatkan.

            Semasa kakek saya masih bermain layang-layang, kelereng dan bermain tembak-tembakan dari pelepah pisang. Kampung kami tak mengenal apa itu arti ‘tradisi’. Kami hanya melakukan apa yang kami anggap pantas dan perlu. Salah satunya jabat tangan. Kakek pernah bercerita pada saya bahwa asal muasal jabat tangan dalam kampung kami adalah semut. Orang tua kakek saya beranggapan bahwa semut adalah binatang yang diciptakan tuhan agar semua orang yang hidup di Kampung Balung menjadikan semut sebagai representasi nilai kemanusiaan. Semut selalu menyapa seperti berjabat tangan ketika bertemu dengan semut lain, konsisten pada semua ekor semut tanpa kecuali. Menurut leluhur kakek, semut adalah sumber segala kehidupan yang sengaja dihadirkan tuhan. Sejak mereka memperhatikan semut, Kampung Balung selalu menghormati ‘jabat tangan’. Mereka juga menghormati semut, sampai-sampai apabila semut mengganggu atau merusak keindahan rumah mereka, mereka tidak akan membakar atau membunuh semut-semut itu. Mereka akan bergegas berdoa, agar tuhan memberikan berkah.

Sambil mendengarkan Pak Di, sorot mataku mencuri-curi wajah seorang tua, yang aku yakini itu adalah Mbok De Sah, sepertinya Mbok De Sah juga memahami apa yang diceritakan Pak Di, tapi dia memilih diam tanpa ikut campur, lebih tepatnya dia memilih peran sebagai penjual nasi, bukan narasumber lain.

            Tapi, ketika kakek saya tumbuh dewasa, memiliki istri dan anak. Perlahan ‘jabat tangan’ itu telah perlahan hilang. Anak-anak kecil juga sedikit sekali yang mencium tangan orang tua untuk berangkat sekolah. Anak-anak lebih suka melayangkan tangannya untuk meminta uang saku, lalu bergegas berangkat ke sekolah tanpa mengucap salam.

Bila lebaran tiba, tradisi orang-orang tak seperti jaman kakek saya dulu. Sekarang, cukup satu hari saja, pada 1 syawal, para tetangga akan berjalan-jalan dari pintu ke pintu, sembari berjabat tangan mengucap mantera minal aidzin wal faidzin. Lalu, pada hari esok mereka telah merencanakan tempat-tempat liburan yang harus dikunjungi.

Berbeda dengan jaman kakek dulu, lebaran seperti terjadi cukup lama, sebulan penuh: dipenuhi nuansa maaf-maafan, silaturahmi dan segala kegiatan kemanusiaan lain.

Kakek tak bisa berbuat banyak, jaman telah berubah. Kakek menghabiskan waktu dengan sawah dan telaga kecil di samping sawahnya. Di telaga kecil itu, kakek menebar ragam jenis ikan. Kakek menyebut nama telaga itu sebagai “Telaga Jabat Tangan”, tentunya dengan bahasa daerah, yaitu “Tlogo Salaman”.

Sembari menunggu hasil panen, kakek menghabiskan waktu di telaga. Seharian kakek di telaga, meski tak melakukan apa-apa. Beberapa minggu setelah kakek menebar ikan di telaga kecilnya. Kakek mempersilahkan siapa saja memancing ikan miliknya, gratis. Hanya dengan satu syarat: berjabat tangan antar pengunjung, terutama menjabat tangan kakek.

Seketika, tak lebih dari seminggu, telaga kakek dipenuhi ragam orang, dari anak-anak sampai orang tua. Kakek juga tahu kalau mereka hanya berjabat tangan sebagai ritual formalitas saja, agar mendapat ikan. Tak lebih. Tapi kakek tak mempermasalahkan hal itu. Karena jaman telah berubah, dan kakek masih memiliki harapan, bahwa manusia masih memiliki sikap kemanusiaan dalam tiap relungnya.

Berbulan-bulan, orang-orang dari usia anak-anak sampai orang tua sering mengunjungi telaga kakek. Mereka selalu mendapatkan ikan dengan ragam jenis. Dan berbulan-bulan pula, ikan di telaga kakek tak pernah habis, selalu tersangkut pada tiap kail, pada tiap umpan yang ditebar orang-orang, padahal kakek tak pernah menebar ikan-ikan lagi.

Suatu ketika, peristiwa mencengangkan telah hadir menimpa kakek saya. Seseorang dari kota, berseragam rapi mendatangi rumah kami, bermaksud membeli sawah dan telaga kakek untuk dibangun sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar, mirip mall-mall di kota. Lokasi telaga dan sawah kakek memang amat strategis apabila dijadikan pusat perbelanjaan. Tapi, kakek menolak keras, ia tidak akan menjual tanahnya berapapun jumlah uang yang ditawarkan. Orang dari kota yang berseragam rapi itu menawarkan dua kali lipat dari harga biasanya, kemudian menjadi empat kali lipat, sampai sepuluh kali lipat. Kakek tetap menggelengkan kepalanya. Sembari berjabat tangan, kakek mengantar seorang yang berseragam itu untuk keluar.

            Aku semakin antusias mendengarkan Pak Di bercerita, tak kupentingkan lagi draft pertanyaan yang telah kusiapkan, tak kuhiraukan lagi tata cara berwawancara ala jurnalistik, aku telah mendapat informasi lebih.

Tiga hari setelahnya, kakek ditemukan tewas di samping telaganya. Bajunya sobek-sobek sepertinya ada aksi dorong-mendorong, paksa-memaksa. Dan, pada bagian perut, darah keluar banyak. Kaos berwarna putih kakek, bergambar runduk padi dan merk pupuk, berubah menjadi merah. Kakek tewas dibunuh! Entah, siapa pembunuhnya. Tetapi saya yakin ada hubungan dengan kedatangan seorang dari kota yang berseragam rapi tempo hari.

Sebulan setelah kematian kakek. Keluarga kami tak bisa melakukan apa-apa. Ayah saya menerima lembar-lembar uang yang amat tebal pemberian seorang dari kota itu, yang kelihatannya berseragam lebih rapi. Ayah tak bisa menolak seperti kakek. Ayah tak mengerti sama sekali. Karena ayah baru saja pulang dari perantauan dan kemudian memutuskan untuk tidak meninggalkan kampung kami. Tanpa penolakan, ayah menerima. Saya juga hanya bisa diam.

Kita kembali ke telaga kakek, ya. Sesuai dengan perkiraan warga, tanah kakek disulap menjadi bangunan bertingkat, mirip bangunan di televisi. Bangunan itu adalah pusat perbelanjaan di kampung. Dan sekarang banyak sekali orang-orang di kampung kami tidak mau tahu ‘telaga jabat tangan’, sawah, atau nilai kemanusiaan lagi. Orang-orang tanpa sadar merasa amat senang dapat berkunjung ke pusat perbelanjaan itu, seperti terhipnotis, seperti sebuah tamasya. Mereka digiurkan dengan diskon-diskon, tawaran ragam produk dan lain-lain, tanpa sadar penjual-penjual kecil di samping rumah mereka telah bangkrut dan memilih pekerjaan lain. Banyak sekali yang dirugikan dari pembangunan pusat perbelanjaan itu, meski saya tahu juga banyak yang diuntungkan. Tetapi, anak-anak tidak akan paham soal hal ini.

Sebentar Pak Di!” kupotong kisahnya. Lalu kulayangkan pertanyaan padanya. “Jadi, pusat perbelanjaan yang ada di samping sawah-sawah, pinggir jalan itu…??”

“Iya, itu adalah pusat perbelanjaan yang saya maksud.”

Pusat perbelanjaan itu, mula-mulanya adalah sawah dan telaga kakek saya. Hari ini, jabat tangan menjelma tempel-tempel tangan berisi amplop dengan rasa hormat palsu. Tentu, juga dengan basa-basi palsu, wajah-wajah berseragam palsu, senyum palsu, pelayan palsu, tukang parkir palsu, tukang kebun palsu, seperti sajak Agus R. Sarjono: Sajak Palsu!

“Anda juga menyebut tukang kebun palsu? Apakah Anda tukang kebun asli?”

            Pertanyaanku tak perlu dijawab, Pak Di! Candaku. Dengan menggerakkan mulut membentuk senyuman paling tulus, saya menyudahi wawancara dan menjabat tangan Pak Di dengan penuh rasa santun. Setelah itu, aku tak pernah mengunjungi kampung ini lagi. Gegas demi gegas, aku meliput peristiwa lain.[]

 

Jember, 2017

 

sumber foto: 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s