Aksen Madura: Film Ji Dullah

Oleh Rendra Sasongko

Jalanan macet penuh kendaraan roda empat dan roda dua. Banyak orang berkumpul dipinggiran jalan raya, berjajar, duduk bercengkrama dan beberapa anak kecil berkejaran dengan teriakan dari ibunya untuk tidak ke tengah jalan sembari menyambar lengannya.

Mereka bukan untuk nonton karnaval. Pertengahan bulan September kali ini bertepatan dengan kedatangan para jemaah haji. Hadrah, arak-arakan kendaraan bermotor, sound system dan menyalakan kembang api walaupun siang hari adalah hal yang jamak di tempat kami. Sebuah kebiasaan yang sudah pasti kita jumpai setiap kali musim haji, terutama untuk kami yang tinggal di Jember bagian utara.

Dibeberapa titik, saya kesulitan untuk lewat. Tanggal 15 September lalu saya di undang untuk menghadiri launching film berjudul “JI DULLAH”, hasil karya teman-teman Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Pawon Carklacer dipilih sebagai tempat untuk menggelar acara ini. Kebetulan saya adalah salah seorang yang dipercaya untuk menjadi pemain dalam film tersebut. Penasaran. Film ini adalah film pertama untuk saya.

Film yang berdurasi 26 menit ini memilih memakai Bahasa Madura dan komedi untuk gendernya. Menjadi unik karena bagi saya, belum pernah ada film yang berbahasa Madura.

“Kenapa harus Haji dan Madura? Karena di budaya Madura, berhaji masih menjadi salah satu tolak ukur seseorang dapat menjadi terpandang di kampungnya. Seolah-olah di masyarakat Madura, orang yang sudah berhaji memang sudah pantas untuk dijadikan tokoh masyarakat”, begitu lah ujar Alif Septian sebagai sutradara film menjelaskan.

Berhaji adalah kebanggaan tersendiri selain sebagai penanda sosial.

Selain dikenal dengan sifat dan perilaku yang eksentrik, masyarakat Madura juga punya sisi humor. Maka tak salah jika film ini memilih genre komedi. Banyak guyonan-guyonan yang bertebaran.

Diceritakan, Haji Abdullah Yasin (Dani Al Pratam) baru datang menunaikan ibadah haji. Ia biasa dipanggil Ji Dulla. Oleh seorang temannya, Hayyun/Yoyon (Rendra S.A), mendesak Ji Dulla untuk mencalonkan diri menjadi Kepala desa (Tenggih). Mulanya, Ji Dulla yang menolak akhirnya mau karena Hayyun menyebut tanah bengkok untuk seorang Kepala Desa seluas 20 hektar. Mereka dibantu oleh Margono (Achmad Bachtiar), seorang Jawa sebagai ‘konsultan politik’ yang memiliki rumah ala-ala dukun.

Dani Al Pratam yang memang humoris, berhasil membangun komedi dalam film tersebut meskipun dialog yang diucapkan adalah dialog serius, selain juga didukung oleh gimmick-gimmick. Penonton juga terbantu dengan teks Bahasa Indonesia. Meski tidak mengerti bahasanya, entah karena logat dan tingkah laku para pemain, penonton bisa tertawa.

Terlepas dari sisi humornya, film ini banyak menyentil hal-hal yang kita lakukan setiap harinya. Dalam salah satu adegan misalnya, Ji Dullah tidak segera memasukkan uang ke dalam kotak amal sebelum beberapa orang yang sedang duduk di masjid memperhatikannya.

Secara umum film ini berhasil menghibur. Hanya saja durasinya terlalu pendek. Menurut sutradaranya, ini dikarenakan ketentuan dari dosen. Iya, film ini dibuat untuk memenuhi Tugas Praktika Terpadu Fiksi.

Banyak hal yang sebenarnya bisa diangkat untuk memperkaya cerita. Sebut saja misalnya, awal mula penambahan gelar haji yang dilakukan oleh kolonial Belanda. Masyarakat kita belum banyak yang tahu.

“Untuk harapannya, film ini dapat menjadi kebanggaan masyarakat Madura, pandalungan dan sekitarnya. Mungkin juga dapat menjadi angin segar dalam iklim film, karena kita tahu masih belum banyak (atau belum ada) film dengan menggunakan latar belakang atau bahasa Madura”, begitu kata Alif yang saya kutip dari percakapan via WA.

Menjadi lebih menarik jika film ini diputar di tengah lingkungan yang digunakan sebagai latar pembuatan filmnya. Selain sebagai media penghibur bagi kami yang selalu haus hiburan, film ini juga dapat memberi warna lain selain sinetron dan film yang banyak, bahkan terlalu banyak, kami tonton di televisi. Festival film atau gedung Cineplex, adalah hal yang terlalu mewah, setidaknya untuk kami yang tinggal di Jember utara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s