Tentang

Oleh: Ibnu Wicaksono

Selepas dhuhur, jalanan tak lepas dari abu. Rumah Fahmi, ruang singgah yang cukup jauh dari keberisikan, jadi kamar bermukimnya segenap ide, kesal dan rasa kantuk dari ngopi atau sekedar bernapas dengan tujuan yang (tidak dapat dikatakan) jelas. Siang itu, mencungul rencana untuk pengambilan gambar ilustrasi sebuah karya sastra seseorang. Seseorang yang masih mencari-cari jalan memutuskan jadi tuan rumah di tempat tinggal sastra atau hanya tamu, meski tak istimewa. Vindri, perempuan sederhana yang cukup memiliki selera dalam beberapa hal, termasuk rencana ini: pembuatan ilustrasi karya, telah memutuskan dirinya untuk jadi konseptor.

Adalah dua perempuan dengan kepemilikan karakter hidup berbeda, dipertemukan dalam sederet kondisi kehidupan yang mencengangkan. Dua perempuan ini sedang sama-sama hamil dengan ketidakjelasan nasib, para lelakinya sama-sama memutuskan untuk tidak jadi teman sepanjang masa. Kemudian, dua perempuan ini memutuskan untuk jadi teman, lalu teman dekat. Lalu ciuman.

Segenap arahan, beberapa ganti-ganti pose, ide dan tempat. Vindri menghasilkan ilustrasi yang diinginkan, walaupun sepertinya sedikit kurang puas. Pemungutan properti dan beberapa kebutuhan jadi tanda ‘selesai’. Kemudian tanpa rencana, atau dapat dikatakan iseng. Fahmi, Vindri, seorang teman dan saya, berjalan-jalan keluar, ingin mengabadikan diri dalam ruang ukuran selembar kamera. Ada pohon tua di tengah sawah, pohon itu bentuknya puitis, tanpa daun, tumbuh agak miring, condong ke kiri dilihat dari rumah, dan berdiri sendiri di tengah hamparan padi yang hampir menguning. Sebelum kami berjalan ke arah sawah, kami sempat berhenti dan mengambil gambar di atas lingkaran semen yang biasanya dipergunanan untuk pembuatan sumur atau terowongan sungai. Entah, apa namanya. Ada tiga lingkaran tertata di rimbunan tanaman. Kami mengambil gambar di situ sebentar, kemudian hijrah ke sawah.

Sepintas saja, saya melihat hasil gambar hasil jepretan teman saya. Tiba-tiba saya membuka kamus milik Fahmi, saya buka-buka dan timbang-timbang beberapa kata yang ada dalam pikiran, waktu itu malam hari. Kemudian, saya pilih salah satu gambar dan upload di instagram, saya beri judul: Lingkar Merimbun.

Kini, tempat mengambil jepretan telah berubah, tanamannya telah dihancurkan, sepertinya ingin dibangun sebuah rumah, tiga lingkaran semen juga telah jadi bahan untuk pembuatan sumur. Dan, pohon tua di tengah sawah telah ditumbuhi daun-daun.

Kemudian, pada tempo yang sangat singkat. Dari tawaran dosen sastra, budayawan, beberapa orang sampai Metro TV untuk menampilkan karya musikalisasi puisi, Vindri, Fahmi, Khoir dan saya menerima tawaran itu dengan segenap keyakinan dan kekuatan yang tak seberapa besar. Tapi, setidaknya melunasi kerinduan masa silam kami.

Masa silam yang cukup jauh itu.

Kami pernah berbincang-bincang sekenanya di penjelang purnama. Kemudian menghasilkan aksi bermain-main di kampus, hanya, waktu itu kami berlima, dengan Krishna. Seorang lelaki tangguh, cerdas yang menyayangi mamah, selalu mengepalkan tangan kiRi, lelaki gaRut-jembeR, sastRa inggRis, sastRa, univeRsitas jembeR, geliat di teateR, yang sepertinya sekarang telah menemukan ruhnya dalam berteater, yang lebih mantap. Di kampus, berdandan ala anak TK, kami menari-nari, menyanyi seperti anak kecil yang sangat bahagia dengan adanya kampus sastra yang berwarna.

Lihat Kampusku, penuh dengan lampu
Ada yang biru dan ada yang ungu
Setiap hari, nyala mati nyala
Oh kampus sastra, alun- alun kota

Kami berempat, berusaha untuk menumpahkan romansa masa silam itu, dengan sebentuk ekspresi, berwujud puisi. Kami berusaha menuangkan puisi melalui media musik. Segenap tekad, keinginan mengingat masa silam dan kegelisahan-kegelihasan dalam bentuk apapun, kami melingkar.

Memang, musikalisasi puisi sudah jadi objek obrolan kita sejak dulu, di manapun. Entah di ruang singgah pribadi diri kita masing-masing ataupun di daerah kita tinggal: Jember. Ia masih jadi ekspresi yang tidak terlalu diminati di Jember. Atau mungkin ada alasan lain lagi, seperti kerumitan menafsirkan puisi dengan musik, kurang antusias mengapresiasi, sastra dan musik yang agak berjauhan dan beberapa alasan lain.

Sebelumnya, ada nama sebelum Lingkar Merimbun, nama itu hanya digunakan oleh Fahmi dan saya. Nama yang hanya berproses namun kurang tumakninah, hanya menghasilkan beberapa rekaman hasil pembacaan puisi dengan ilustrasi musik. Kami juga sepakat, nama itu dileburkan saja, pada Lingkar Merimbun. []

Advertisements