Category Archives: Uncategorized

PADA SUATU HARI NANTI

PADA SUATU HARI NANTI

; kepada Ari, Reda, Sapardi dan Seorang Puisi

C e r p e n : I b n u W i c a k s o n o

Pada suatu hari nanti, jasadmu tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini, kau takkan kurelakan sendiri…

Denting melenting terdengar seperti derup tubuh-tubuh teroris, meneror segenap pelupuk mata yang sedang memicing. Gitar sedikit dibikin miring, dalam dekapan seorang lelaki yang sepertinya kehilangan keheningan dari kepalanya yang pening. Perempuan di samping, kedua tangannya seperti menari merubuhkan jiwa-jiwa jatuh terpelanting. Mereka bukan kekasih dalam deret peristiwa penting. Lelaki bergitar dan perempuan di sampingnya duduk seperti sepasang kunang-kunang bercahaya sebagai pendar lampion yang paling meriah, pada sepanjang malam yang hening.

“Kami tidak sepenuhnya membabtis diri kami sebagai pasangan penting. Kami hanya ingin bergegas berdenting. Puisi adalah sesuatu yang menakutkan bagi kami. Saya sendiri misalnya. Setelah bertahun-tahun, saya yang mengaku lulusan sastra ini baru berani bilang suka pada puisi.” Tukas perempuan bersorot mata teduh, dengan rambut tidak lebih panjang dari lelaki di sampingnya. Kemudian, gitar berdenting. Perempuan itu bergeming. Sebentar, lalu bergegas mengiring.

Hujan runtuh di atas genting. Ting. Ting. Ting. Mereka berdua berharap menghentikan hujan agar segenap pelupuk mata di hadapannya dapat pulang dengan tubuh kering.

Ada yang berdenyut dalam diriku

Menembus tanah basah dendang yang dihamilkan hujan

Dan cahaya matahari

“Segenap deret peristiwa yang kami alami disebabkan oleh Sapardi. Ia bertanggungjawab atas semua ini. Apabila ada kasus penistaan puisi tentang apa yang kami kerjakan sepanjang asa. Nama Sapardi adalah penjerumus utama yang membikin kami tidak lepas dari puisi. Ia adalah tersangka paling utama dan harus diposisikan paling tinggi.”

Tuduhan perempuan meledakkan tawa di sekelilingnya. Bahak demi bahak meledak. Ruangan ini memang sempit. Tapi, tak sepenuhnya membikin suasana menjadi pahit. Lelaki berkemeja putih dengan kaos putih terlihat sedikit, membikin relung jadi larung. Segala yang murung seperti bergegas terlempar pada palung.

“Karena ini baru tanggal 18. Gajian masih jauh (ada suara gelak tawa). Hmmmm. Tapi, valentine’s day baru empat hari yang lalu. Jadi, yang datang bersama yang tercinta boleh pegangan tangan, boleh curi-curi ciuman kecil di pipi. (ada suara gelak tawa) Tidak terlihat dari sini kok. Hehe. Lagu ini bercerita tentang cinta yang begitu parah.” Lagi-lagi perempuan itu membikin gelak tawa terasa gurih, segenap rasa terangkai tanpa perih. Tapi, seketika tersulap menjadi pucat.

Ketika jari-jari bunga terbuka,

Mendarat terasa betapa sengit cinta kita

Cahaya bagai kabut, kabut cahaya di langit menyisir awan hari

Nama saya Lingkar Merimbun. Entah, mengapa Ayah dan Ibu melayangkan nama itu pada tubuh mungil saya, konon seringkali tubuh mungil itu murung. Saya juga sudah lupa mengapa puisi tak dapat membikin air mata saya terbendung. Sejak ingatan saya yang berkali-kali terlempar pada telaga jauh di ujung Sungai Bedadung, tempat ibu dikirimi segenap kabung, menjadi ruang tubuh saya untuk merenung, sekaligus mematung. Tanah bermukimnya nama ibu pada batu nisan berwarna sedikit mendung. Sepotong kalimat: Aku melihat orang-orang menabur bunga untuk nisannya sendiri. Kalimat tersebut tergeletak di samping makam ibu, pada lantai mungil sebagai tanda letak jasad ibu. Ayah pernah bilang, kalimat tersebut adalah baris puisi pertama ketika Ibu membikin puisi untuk Hari Rabu. Di mana Hari Rabu adalah hari kematian kakek, nenek dan kakak saya, juga kematian ibu.

Sungai Bedadung memang sungai yang menyimpan ingatan tentang masa mungil Ibu. Ayah pernah berkisah sungai ini memiliki mitos, apabila ada seseorang yang mandi di sungai bedadung, ia akan mendapat jodoh di sekitaran Sungai Bedadung. Dulu, juga pernah ada kisah cinta yang begitu menyakitkan, yaitu antara Pangeran Puger dan Roromangli. Di mana keduanya terpisah jarak dan Sungai Bedadung adalah batas. Daerah di kerajaan Roromangli berkeyakinan tidak akan akan terjun ke Sungai Bedadung, apabila ia terjun atau bahkan sampai jatuh cinta pada penduduk di Kerajaan Puger, itu akan mengakibatkan malapetaka yang begitu besar bagi daerah di Roromangli. Karena cinta yang amat dalam, Roromangli memilih melarungkan dirinya ke sungai dan hidup bersama Pangeran Puger. Seketika daerah Roromangli terkena banjir.

Mereka berdua, lelaki bergitar dan perempuan di sampingnya duduk seperti sepasang kunang-kunang bercahaya sebagai pendar lampion yang paling meriah itu, tepat di depanku, benar-benar membikin tubuh saya teringat ayah dan ibu. Terutama ibu.

Saya dilahirkan pada tahun 1998, tepat ketika Reda Gaudiamo dan Ari Malibu, nama lelaki bergitar dan perempuan itu mendeklarasikan diri, atas nama bahasa untuk menyenandungkan Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni. Nama lain yang perlu disebut pada deklarasi tersebut adalah Amir Hamzah sebagai Penemu Padamu Jua, Toto Sudarto Bachtiar sebagai Penemu Gadis Peminta-minta dan Sebuah Elegi, Chairil Anwar sebagai Penemu Cintaku Jauh di Pulau, dan Goenawan Mohamad sebagai Penemu Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi. Ayah dan Ibu menghadiri acara deklarasi tersebut. Ayah berkisah, ada sepasang nama yang penting, mereka adalah penyedia kopi paling tekun: Sapardi dan Fuad Hasan.

Mereka berdua benar-benar mengingatkan saya pada ayah dan ibu. Perempuan berkacamata seperti bening telaga. Juga, lelaki gondrong dengan wajah seperti tayangan televisi, tentu bukan pemeran grandong. Adalah sepasang manusia yang membikin ibu saya jatuh cinta pada puisi, yang membikin ayah saya jatuh hati pada musik, yang membikin orang tua saya menikah dengan resepsi pernikahan paling puitis dengan alunan musik paling merdu, pada pernikahan di muka bumi, satu-satunya yang musikal dan puitis versi ayah. Ibu saya pernah berpesan. Temuilah mereka berdua. Meski kau tak sempat bertegur sapa, setidaknya kau dapat mendengar bunyi yang dilayangkan mereka. Sampaikan ke ibu.

Hari ini saya berada di depan mereka, Bu. Mereka sedang melantunkan beberapa puisi yang paling Ibu suka. Orang-orang di samping saya tertawa semua Bu, tapi seketika menangis bersama. Dan sekarang, mereka melongo seperti anak mungil yang ndomblong (bengong).

“Kalau ketika jari-jari itu adalah peristiwa cinta yang sengit, parah dan berbunga-bunga. Nah, yang satu ini juga parah. Parah-parah dikit ndak papalah. Hehehe. (Ada suara gelak tawa) Kisah cinta ‘kan nggak papa, ya ada sad ending-nya. Apaan sih? (Ada suara gelak tawa). Puisi ini juga membuat kami terpilih sebagai finalis dalam penghargaan yang cukup membikin dada sedikit terbusung. Hehehe. Apaan sih?” (Ada suara gelak tawa).

kita berdua saja, duduk

aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput

kawan tak memesan apa. Aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras

Ibu, sejak kematianmu, Ayah tidak pernah bermain gitar kembali. Ia seringkali belajar catur dan usaha menjadi tukang cukur. Sebegitu parah kah cinta kalian. Saya juga tidak pernah mendengar kalian berdua bernyanyi bersama atau membaca puisi bersama. Kalian seringkali bertengkar hanya gara-gara musik dan puisi.

Sembari mendengarkan idola ayah dan ibu. Saya teringat peristiwa itu. Peristiwa pertengkaran yang acapkali terjadi antara ayah dan ibu.

“Apapun yang menimbulkan bunyi, itu adalah musik. Tepukan tangan, injak tanah dan hal apapun yang menimbulkan suara itu adalah musik. Jadi, sudah jelas. Musikalisasi puisi itu mengutamakan musik.” Debat Ayah ketika saya mendengar mereka berdua memperdebatkan apa itu musikalisasi puisi, musik puisi, lagu puisi ataupun definisi lain.

“Tidak. Musikalisasi puisi adalah puisi. Musikalisasi puisi mengutamakan puisi. Puisi adalah ruhnya. Musik hanya sebagai media. Musikalisasi puisi adalah sastra.” Tegas Ibu.

Kalimat demi kalimat terlempar begitu saja, meledak seperti bom-bom kecil yang siap membunuh tubuh-tubuh lemah. Tapi, setelah tidak menemukan titik temu. Keduanya berebut untuk menjadikan saya seorang penyair ataupun musisi. Ayah kukuh dengan menjadikan saya seorang musisi dan ibu tumakninah dengan cita-citanya agar anaknya kelak dapat melahirkan puisi.

Atau, ketika saya masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Di meja makan, ketika mereka berdebat. Seringkali ditutup dengan berebut menyuapi mulut saya, sendok demi sendok. Tapi, Yah, Bu. Saya mendengar perempuan bergurat pipi tabah dan lelaki berurat tangan rebah melayangkan suaranya, di depan saya sekarang. Saya menjadi sangat rindu pada kalian, saya menjadi sangat rindu pada perdebatan kalian.

“Judulnya surat cinta, bukan surat kaleng. Di Malang, kemarin ada kesalahpahaman. Reda itu yang ini, Ari itu yang ini. Tapi nggak papa. Masih sering terjadi sampai kemarin. (Ada suara gelak tawa) Jadi, Ari itu yang Mas. Dan Reda yang Mbaknya. Satu lagi juga agak penting, tadi sempat ada yang bertanya, kok datangnya sendirian. Mas Arinya mana? Karena dikira kami serumah. Kami bukan suami istri. (Ada suara gelak tawa)Yuk. Mari. Kami punya pasangan masing-masing, dan anak masing-masing,” gelak tawa semakin meledak.

Bukankah surat cinta ini ditulis, ditulis ke arah siapa saja

Seperti hujan yang jatuh ritmis, menyentuh arah siapa saja

Ibu, apakah tubuhmu ditaburi gerimis malam ini? Saya haus, Bu. Saya ingin meminum lagi. Seperti dulu. Saya minum air sungai yang mengalir dari mata Ibu. Saya minum lagi, secangkir. Sejak saat itu, sampai air mata saya menderas saat ini. Saya tersadar, saya hidup dengan air matamu, Bu.

Ayah, apakah gerimis malam ini memberi nuansa musikal keheningan di rumah? Saya yakin malam ini Ayah hanya melihat lukisan Ibu yang Ayah rampungkan sebulan yang lalu. Sembari mendengarkan suara jangkrik, gerimis, sound system masjid, bahkan suara detak jantung dan napasmu sendiri. Saya juga, Yah. Di sini saya menjadi tersadar. Mengapa nama Lingkar Merimbun itu kalian lekatkan pada tubuhku, yang tak sepenuhnya tahu dari mana berasal, mau berbuat apa di dunia dan akan pergi ke mana selepas nyawa melesat?

Di bangku paling belakang, di sebelah ujung. Saya duduk bersama kekasih saya yang tidak terlalu suka dengan puisi dan musik. Kami memperhatikan Ari dan Reda. Air mata saya terbendung dalam kepala, Bu. Jangan sampai kekasih saya tahu, kekasih yang saya tahu pernah main dan mandi ke Sungai Bedadung itu.

“Lingkar, Aku ingin pulang!” ujarnya ketika Ari Reda merampungkan Aku Ingin.

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikanya abu

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Jember, 2017-2018

Advertisements

Aksen Madura: Film Ji Dullah

Oleh Rendra Sasongko

Jalanan macet penuh kendaraan roda empat dan roda dua. Banyak orang berkumpul dipinggiran jalan raya, berjajar, duduk bercengkrama dan beberapa anak kecil berkejaran dengan teriakan dari ibunya untuk tidak ke tengah jalan sembari menyambar lengannya.

Mereka bukan untuk nonton karnaval. Pertengahan bulan September kali ini bertepatan dengan kedatangan para jemaah haji. Hadrah, arak-arakan kendaraan bermotor, sound system dan menyalakan kembang api walaupun siang hari adalah hal yang jamak di tempat kami. Sebuah kebiasaan yang sudah pasti kita jumpai setiap kali musim haji, terutama untuk kami yang tinggal di Jember bagian utara.

Dibeberapa titik, saya kesulitan untuk lewat. Tanggal 15 September lalu saya di undang untuk menghadiri launching film berjudul “JI DULLAH”, hasil karya teman-teman Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Pawon Carklacer dipilih sebagai tempat untuk menggelar acara ini. Kebetulan saya adalah salah seorang yang dipercaya untuk menjadi pemain dalam film tersebut. Penasaran. Film ini adalah film pertama untuk saya.

Film yang berdurasi 26 menit ini memilih memakai Bahasa Madura dan komedi untuk gendernya. Menjadi unik karena bagi saya, belum pernah ada film yang berbahasa Madura.

“Kenapa harus Haji dan Madura? Karena di budaya Madura, berhaji masih menjadi salah satu tolak ukur seseorang dapat menjadi terpandang di kampungnya. Seolah-olah di masyarakat Madura, orang yang sudah berhaji memang sudah pantas untuk dijadikan tokoh masyarakat”, begitu lah ujar Alif Septian sebagai sutradara film menjelaskan.

Berhaji adalah kebanggaan tersendiri selain sebagai penanda sosial.

Selain dikenal dengan sifat dan perilaku yang eksentrik, masyarakat Madura juga punya sisi humor. Maka tak salah jika film ini memilih genre komedi. Banyak guyonan-guyonan yang bertebaran.

Diceritakan, Haji Abdullah Yasin (Dani Al Pratam) baru datang menunaikan ibadah haji. Ia biasa dipanggil Ji Dulla. Oleh seorang temannya, Hayyun/Yoyon (Rendra S.A), mendesak Ji Dulla untuk mencalonkan diri menjadi Kepala desa (Tenggih). Mulanya, Ji Dulla yang menolak akhirnya mau karena Hayyun menyebut tanah bengkok untuk seorang Kepala Desa seluas 20 hektar. Mereka dibantu oleh Margono (Achmad Bachtiar), seorang Jawa sebagai ‘konsultan politik’ yang memiliki rumah ala-ala dukun.

Dani Al Pratam yang memang humoris, berhasil membangun komedi dalam film tersebut meskipun dialog yang diucapkan adalah dialog serius, selain juga didukung oleh gimmick-gimmick. Penonton juga terbantu dengan teks Bahasa Indonesia. Meski tidak mengerti bahasanya, entah karena logat dan tingkah laku para pemain, penonton bisa tertawa.

Terlepas dari sisi humornya, film ini banyak menyentil hal-hal yang kita lakukan setiap harinya. Dalam salah satu adegan misalnya, Ji Dullah tidak segera memasukkan uang ke dalam kotak amal sebelum beberapa orang yang sedang duduk di masjid memperhatikannya.

Secara umum film ini berhasil menghibur. Hanya saja durasinya terlalu pendek. Menurut sutradaranya, ini dikarenakan ketentuan dari dosen. Iya, film ini dibuat untuk memenuhi Tugas Praktika Terpadu Fiksi.

Banyak hal yang sebenarnya bisa diangkat untuk memperkaya cerita. Sebut saja misalnya, awal mula penambahan gelar haji yang dilakukan oleh kolonial Belanda. Masyarakat kita belum banyak yang tahu.

“Untuk harapannya, film ini dapat menjadi kebanggaan masyarakat Madura, pandalungan dan sekitarnya. Mungkin juga dapat menjadi angin segar dalam iklim film, karena kita tahu masih belum banyak (atau belum ada) film dengan menggunakan latar belakang atau bahasa Madura”, begitu kata Alif yang saya kutip dari percakapan via WA.

Menjadi lebih menarik jika film ini diputar di tengah lingkungan yang digunakan sebagai latar pembuatan filmnya. Selain sebagai media penghibur bagi kami yang selalu haus hiburan, film ini juga dapat memberi warna lain selain sinetron dan film yang banyak, bahkan terlalu banyak, kami tonton di televisi. Festival film atau gedung Cineplex, adalah hal yang terlalu mewah, setidaknya untuk kami yang tinggal di Jember utara.

TELAGA JABAT TANGAN

Cerpen: Ibnu Wicaksono

33emoji-jabat-tangan

 

Jabat tangan seringkali menjadi peristiwa pelunasan sebuah perpisahan yang amat dalam. Tentu, pertemuan adalah jawaban atas segala rindu yang tak lebih dari lima detik akan bergegas sirna. Setidaknya, selama beratus-ratus tahun lamanya, tradisi jabat tangan di Kampung Balung, sebuah kampung yang boleh dikatakan mungil, telah menyebar tradisi jabat tangan sebagai peletakan kehormatan atas pertemuan dari perantauan, perpisahan atau jenis-jenis tatap muka yang lain.

Orang-orang di Kampung Balung hidup di atas tanah leluhur yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Bagi mereka, jagongan dengan sesama tetangga adalah peristiwa paling penting daripada ibadah rohani, mencari uang, mencuci baju atau mengeringkan padi. Sejak kakek-nenek mereka kecil, kampung mereka telah menjalani hidup sebagai tempat bermukimnya manusia dengan jiwa kemanusiaan yang amat tinggi.

Itu pertama kali kesanku mengunjungi kampung yang murung ini. Aku telah bertemu dengan Pak Di, seorang tukang kebun yang harus aku wawancarai. Padanya-lah, aku bergegas tahu tentang dongeng ‘telaga jabat tangan’. Berikut adalah hasil wawancaraku, yang telah kutuliskan dengan gaya prosa.

Sekali lagi, ini adalah nostalgia paling hiperbola sejak saya telah tumbuh menjadi cucu-cucu mereka yang entah keturunan ke berapa. Hari ini, saya telah tumbuh sebagai tukang kebun di sebuah sekolah menengah atas, di mana tetangga-tetangga saya tidak mau tahu apa-apa tentang saya, hanya akan takjub atau memberikan penghargaan atas nama moral ketika saya mampu membeli sepeda motor, televisi, kulkas atau materi-materi lain. Sudah tidak saya jumpai lagi bagaimana ‘tradisi jabat tangan’ yang hanya menjadi dongeng: cerita saban senja di sebuah pelataran rumah Pak Lan, semasa saya masih kecil dulu.

Maka, saya layangkan kisah ini padamu, agar kalian tahu bahwa kampung kami pernah memiliki memoar yang tak pernah tercatat di museum atau catatan-catatan sejarah di instansi manapun. Usai menyapu halaman sekolah, membersihkan lantai kelas, mengecek kamar mandi dan memastikan tak ada lagi siswa yang menghuni lingkungan sekolah, saya mengunjungi sebuah warung nasi pecel kecil, tapi sangat terkenal, Warung Mbok De Sah. Sebenarnya saya sudah seringkali berkunjung ke warung Mbok De Sah, meski hanya sarapan, ngopi atau sekedar menghabiskan waktu. Tapi kali ini berbeda, saya telah berjanji dengan seorang reporter dari kota, entah atas kepentingan apa.

            Aku jabat tangan Pak Di dengan segala kesantunan yang kumiliki. Senyumnya gurih, tulus dan penuh keramahan. Pelupuk matanya amat meneduhkan. Langsung kutanyakan padanya: Mengapa di sini ada Telaga Jabat Tangan? Aku harus mewawancarainya.

            Saya tak menjawab dengan gegas pertanyaannya. Saya pesankan secangkir kopi dengan berbasa-basi sebentar, saya perhatikan tubuhnya. Sepertinya orang baik. Saya juga tidak menemukan jejak-jejak asing dalam wajahnya, tetapi saya tetap waspada. Continue reading TELAGA JABAT TANGAN

Napoleon Wicaksono

Oleh: Achmad Ulul ArchamTha
(Makhluk Teater Gelanggang)

IMG_2947

Saya berfikir maka saya ada (menurut orang, ini terjemahan dari cogito ergo sum), Rene Descartes. Logika peng-ada an untuk menunjukkan kehadiran. Penunjangnya menggunakan sarana berfikir. Seorang bernama Ali Antoni bersembunyi dalam karakter Dolob, mengatakan “stop berfikir positif apalagi negatif’.

Kutipan yang saya ambil dari dua orang tersebut tidak ada hubungannya dengan pembahasan di dalam tulisan ini. Setidaknya terlihat bagus sebagai pembuka. Dan tampak menarik, elegan, keren, dan seperti ‘pengutip’ handal. Karena menghadirkan tokoh-tokoh (yang dianggap) terkenal.

Saya katakan sekarang, bahwasanya sesungguhnya sebenar adanya ini mengenai Diskusi cerpen karya Ibnu Wicak (sono). Judul “Leluhur Menur”. Menghadirkan Ghanesya Hari Murti[1] sebagai Pembicara, tentunya si Ibnu yang menganggap dirinya penulis cerpen dihadirkan. Acara digagas Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMASIND) dalam event bernama Diskusi Sastra (Baca juga: Bedah Cerpen Leluhur Menur ).

***

Hadirnya tokoh-tokoh dalam cerpen bergerak untuk saling timbal balik mengisi ruang-ruang kosong penceritaan. Menur, Janoto, dan Kantil. Leluhur (ditandai kehadirannya sebagai ‘aku’ dalam wujud Roh), dia bisa dikatakan tokoh atau tidak. Mas Ghanesy menggunakan paradigma Bachtin untuk melihat tokoh-tokoh dalam cerpen.

Pemunculan Tokoh Utama.

Setiap pembaca berhak untuk memberikan pembacaan pada sebuah karya. Tidak melulu menunggu kebenaran yang disampaikan oleh penulis. Penulis memiliki otoritas, begitupun pembaca. Supaya tidak terpengaruh oleh pemaknaan utuh pengarang, maka pelu ditiadakannya penulis. Menurut Barthes, perlu ada pembalikan mitos. Untuk memunculkan menghidupkan atau melahirkan pembaca harus diiringi dengan kematian pengarang. Bukan mati seutuhnya, mati secara wujud fisik maupun mati ideologis. Hal itu tetap akan muncul. Setidaknya kesampingkan dulu pengarangnya, taruh sejenak di sebelah gelas kosong atau sendok sisa mengaduk mie seduh. Biar tidak mengganggu orang membaca. Jika tidak ditaruh, makna hanya tunggal yang dimunculkan dan diinginkan pengarang.

Seorang audien mempertanyakan penjelasan mas Ghanesy. Bahwa tidak ada tokoh utama di dalam cerpen Leluhur Menur. Oleh si penulis, tokoh-tokoh dihadirkan memiliki keberimbangan ideologis. Pola pikir serta penyaluran pandangannya setara. Tidak ada dominan tunggal. Bisa saling mendominasi atau dominasi bergilir. Kok bisa, ndak ada tokoh utama. Padahal di ruang kuliah, telah ditekankan bahwa tokoh dibagi menjadi dua, tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh penting dan tokoh pelengkap. Ya, setidaknya dengan biner semacam itu.

Mas Ghanesy dengan acuan Bachtinnya mengatakan tidak melulu harus muncul tokoh utama. Tokoh utama harus memiliki kemandirian berfikir. Tidak banyak digerakkan atau dipengaruhi oleh tokoh-tokoh lain. Bahasa lainnya ‘dikendalikan’. Seorang tokoh yang banyak dikendalikan tokoh lain, ‘tidak layak’ disebut tokoh utama. Kedudukannya menjadi setara.

Sedangkan pertanyaan audien mengenai tokoh utama, dipengaruhi oleh proses tanam pengetahuan di ruang kuliah. Menurut Dosen anu, Tokoh utama biasa ditenggarai dengan kehadirannya di awal. Di awal, ini bisa bermaksud judul.

Mengenai penyimpulan ada atau tidaknya tokoh utama, bergantung pada sisi pandang mana yang digunakan. Dengan kemandirian berfikir, bisa tidak ada tokoh utama. Sedangkan pandangan lain, seperti tokoh utama merupakan tokoh yang paling sering muncul. Salah satu penanda munculnya, disebut atau ditulis paling banyak. Jadi, bergantung paradigma mana yang dipilih untuk menentukan.

Bahasa bukan alat tukar tambah informasi, melainkan alat tukar kekuasaan.(Ghanesy)

Hubungan Realisme dan magis.

Keterikatan Janoto dan Menur diceritakan sebagai manusia pacaran. Konstelasi yang belum tercapai untuk duduk di ruang peng’utuh’an, menikah. Menikah oleh masyarakat sudah dianggap peresmian sebuah hubungan.  Hingga pengadaannya melalui prosedur-prosedur. Entah keagamaan, adat istiadat, hingga negara ikut andil. Gilak, menikah saja harus dirasuki hal-hal macam begitu. Supaya buah yang dihasilkan dari hubungan pohon dan tanah bisa diakui dan dipertanggungjawabkan legalitasnya, secara halal, hukum, dan budaya. Peristiwa menikah memang tidak ditampakkan langsung oleh penulis di dalam cerpen.

Anggap saja, ini sisi magis di antara sisi realis yang ditampilkan Ibnu si penulis binal[2] ditengah perkumpulan realis. Bukan begitu?.

 “Kita semua tahu dengan kemeriahan Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu, BEC, dan lain-lain. Sampai-sampai ritual sakral menjadi tontonan, di mana tradisi tolak bala itu menjadi wisata. Banner diberdirikan di mana-mana, padahal ini adat, bagaimana kesakralan yang ada ketika orang-orang mengunjungi tradisi itu dengan menganggap sebagai wisata kesenian?” (Leluhur Menur)

Continue reading Napoleon Wicaksono

Terkuburnya Musholla Pak Mul

Karya Ibnu Wicaksono

55ec44726ac076200994871a9f4a7890
“Murid-muridku sik eling asale, sik eling baline. (Murid-muridku, masih ingat asal dan pulang),” ujar Pak Mul dalam hati, pada tiap subuh.
Memang, semestinya kita meletakkan ingatan pada masa mungil kita, pada muara tawa paling jujur. Di sanalah tempat bermukimnya segala yang mula.
Sepuluh tahun silam, belasan anak di sebuah kampung, kira-kira seusia anak sekolah dasar, selalu berjingkrak-jingkrak sehabis senja. Bila bersaudara, mereka akan berebut mandi. Bergegas berlari, menuju sebuah musholla kecil di sudut kampung, hanya untuk berebut menjadi muadzin. Ketika Muadzin sudah terpilih atas kecepatan waktu, selanjutnya ada beberapa anak mendekatkan mulutnya pada sebuah mikropon, memastikan suaranya terserap dan keluar sebagai lengkingan merdu di sebuah corong TOA yang dikibarkan pada sebuah bambu di depan musholla. Ibuku di rumah pasti mendengar suaraku, pikir hampir semua anak.
Sehabis Magrib, mereka tidak lekas pulang. Mereka akan belajar mengaji pada Pak Mul. Melingkar dalam ruangan, mengeja huruf hijaiyah, membenarkan tajwid, hapalan do’a dan lain-lain. Sebenarnya mereka tidak senang dengan aktivitas mengaji, tetapi ini adalah keinginan orang tua dan Pak Mul selalu punya cara membuat anak-anak senang. Misalnya, bila Pak Mul melihat anak-anak tampak lesu, Ia akan bergegas mencari ide, seperti meminta tolong untuk diidek-idek (diinjak-injak bagian tubuh, mulai dari punggung, sampai ke telapak kaki). Satu murid akan pergi ke ruang yang biasa ditempati perempuan untuk sholat. Wahyu, seorang murid idola Pak Mul dalam idek-idek, selalu memberi rasa tenang dan nyaman pada tiap injakannya, Murid yang lainnya berpura-pura khusyu’ sebentar, kemudian bila Pak Mul sudah keenakan sampai-sampai dapat tertidur, anak-anak akan berteriak merdeka dari segenap pengawasan. Mereka dapat bergurau sesuka hati, bermain Abece, tepuk nyamuk dan permainan musiman lainnya.
Di setiap jeda-jeda pejam matanya, Pak Mul berteriak dari posisi tidurnya. “Lhooh, kok nggak enek seng ngaji iki? Ndi suarane? Malah rame dewe. (Kok nggak ada yang ngaji, mana ini suaranya? Malah rame sendiri!) Woi!” teriak Pak Mul. Anak-anak bergegas melafalkan ayat-ayat sebisanya. Bersahut-sahutan. Sampai Pak Mul kembali tenang dalam injakan kaki demi kaki. Karena apabila Pak Mul marah, anak-anak akan dipukul dengan penjalen, atau sebatang bambu dengan diameter tak lebih dari setengah senti.
Pernah suatu ketika,. Haki, salah satu anak yang sering dimarahi. Dituduh Pak Mul sebagai biang keramaian. Maka, saat itu, Haki disuruh duduk di tengah lingkaran kami, seperti terdakwa dalam sebuah pengadilan, menjadi pusat perhatian. Pada saat itulah, Haki akan menjadi anak paling kesepian, ia harus mengaji sampai adzan isya’. Karena memang dasar anaknya nakal, Haki membikin ulah, ia mengajak bercanda anak-anak dalam lingkaran. “Hak, kok angel yo ngandani kowe? (kok sulit bener menghadapi kamu, ya)” pekik Pak Mul. Satu samblekan penjalen pun melayang pada punggung Haki. Ia bersuara tidak terlalu keras, tetapi hampir semua teman-teman yang lain pasti dengar. “Huuuh, Mesti aku (kenapa selalu aku?),” itulah ucapan yang seringkali dilayangkan Haki pada setiap punggungnya terkena samblekan.
Pak Mul juga selalu menjadi evaluator yang tekun. Apabila dia menjadi imam dan pada saat sholat terdengar sangat gaduh karena ulah murid-muridnya, seperti cekikikan kecil, suara mendorong tubuh, pukul-memukul dan lain-lain. Usai sholat, Pak Mul tidak akan melanjutkan dengan wiritan, dia akan menginterogasi murid-murid. Siapa yang membuat gaduh akan mendapat satu samblekan. Apabila tidak ada yang mengaku, semua anak akan mendapat samblekan. Lalu, selepas itu, wiritan kembali digelar sampai pulang, bersalaman sambil melantunkan sholawat.
Kadangkala, Pak Mul juga tidak menyuruh anak-anak mengaji apabila ia menemukan wajah-wajah kusut pada hampir seluruh muka muridnya, mungkin ini gara-gara mereka bermain seharian. Lalu, dalam hitungan detik. Satu, dua, tiga detik. Dappp…!!! Pak Mul akan menawarkan hal lain, seperti hapalan surat, tiba’an, dan lain-lain. Sontak, wajah-wajah yang tadinya terlipat kusut, menjadi perlahan ditumbuhi senyum dan menjadi girang tak tertahan. Hore!!! Yesss!!! Yuhuuyy!!!!
Istri Pak Mul juga memiliki ragam cara untuk mengambil hati murid. Ia adalah perempuan yang pandai merayu dan memuji. Sampai-sampai, apabila berada di hadapannya. Anak-anak akan berusaha menunjukkan tampilan paling menarik agar mendapat pujian. Misalnya, ketika datang ke musholla, anak-anak yang datangnya paling awal akan bergegas disebut-sebut, dipuji sampai anak tersebut menjadi putri malu.
Apabila pada sebuah kesempatan, hanya sedikit anak-anak yang datang mengaji, sekitar 4 sampai 6 anak saja. Istri Pak Mul akan memberikan beberapa lembar uang untuk mereka yang datang. Dan, hari esok yang terjadi, banyak anak yang akan berangkat.
Istri Pak Mul sudah memiliki cucu waktu itu. Cucunya juga menjadi salah satu murid, seringkali cucunya cemburu apabila istri Pak Mul memuji anak yang lain. Adu mulut pun juga sering terjadi antara cucu dan istri Pak Mul. Namun, di lain sisi, istri Pak Mul selalu saja memiliki cara untuk membuat anak-anak betah menjadi penghuni musholla sampai mengkhatamkan Al-Qur’an.
Kami memahami betul bagaimana pola imam di musholla Pak Mul. Apabila imam sholat Magrib adalah Pak Tik, sudah dipastikan imam sholat Isya’ adalah Pak Mul. Begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan saban subuh. Biasanya Pak Mul selalu menjadi alarm alami bagi kami yang tidur terlelap. Mulai dari kumandang tarhim, adzan sampai sholawat selepas doa bersama selalu berisi suara Pak Mul. Kami dapat memastikan jumlah orang di musholla hanya dengan mendengar suara mereka. Biasanya kalangan sesepuh yang selalu hadir pada jamaah subuh. Seperti Mbah Wo, Pak De Adek, Mbak Lah, Pak Tik, Mbah Ni, Pak Tik, Pak Mul dan istri Pak Mul. Apabila suara adzan dikumandangkan oleh Pak Mul, sudah dipastikan Pak Tik yang menjadi imam, kecuali Pak Tik berhalangan untuk hadir. Maka jabatan imam akan diberikan kepada orang lain, tidak lain adalah Pak Mul dengan menyuruh orang lain untuk mengumandangkan iqomah. Selalu begitu, dan subuh adalah suasana yang mengantarkan kita pada nuansa gigil, membuat tubuh keenakan dimanja empuk kasur.
Bila Bulan Ramadhan tiba, musholla akan bergegas diperbaiki, mulai pengecatan, bersih-bersih, renovasi atap, ganti mikropon dan lain-lain. Hal yang paling digemari murid-murid adalah ketika ada bersih-bersih, di mana mereka dapat bermain prosotan, sambil mengepel lantai, siram-siraman air dan kejar-kejaran. Sepertinya Pak Mul memahami hal ini, dia tidak pernah memarahi muridnya saat mereka bermain dengan air, kecuali apabila air itu sampai membasai Al-Qur’an. Pak Mul akan marah besar.
Sepuluh hari pertama puasa, terutama hari pertama, muholla Pak Mul akan dipadati oleh orang-orang yang ingin mengikuti ibadah sholat tarawih. Mereka akan berebut shaf paling depan, tentu berbeda dengan murid Pak Mul yang mengidolakan berada pada shaf belakang. Usai sholat tarawih, anak-anak akan berebut untuk menjadi pendahulu pembaca Al-Qur’an. Mereka beranggapan berangkat ke mushola yang sah pada bulan puasa adalah apabila sudah melaksanakan tadarus.
Takjil dari warga, mulai dari gorengan, es campur, buah-buahan dan ragam jenis lainnya tidak pernah absen pada tiap malamnya. Karena apabila tidak ada warga yang memberi, Istri Pak Mul selalu memberi pisang atau kacang kulit. Pada saat takjil datang, anak-anak bergegas menjadi ribut, walaupun mereka telah memiliki peraturan tak tertulis, bahwa anak-anak yang sudah melaksanakan tadarus saja yang diperbolehkan mengambil takjil.
Pertengahan bulan, jamaah sholat tarawih akan menyusut. Yang biasanya ada gelaran karpet di halaman depan musholla, ini tidak akan terjadi lagi, karena jamaah hanya cukup ditampung di musholla saja. Berbeda dengan minggu pertama dan hari-hari akhir. Semua orang memadati musholla sampai membawa tikar sendiri.
Setidaknya, itulah sedikit banyak tentang gambaran mushola Pak Mul sepuluh tahun yang lalu. Hari ini, anak-anak yang mengaji telah habis. Dapat dikatakan ada pun paling banyak berjumlah 5 anak. Pak Mul sudah tidak dapat berjalan dan menjadi imam lagi. Dia harus sholat dengan posisi duduk. Umurnya semakin berisi. Tapi istrinya masih memiliki otot besi.
Hari ini, musholla seringkali sepi, seringkali tidak ada aktivitas mengaji. Anak-anak kecil tidak ada yang berminat mengaji. Mereka lebih gemar mengikuti les privat pelajaran atau sekedar menghabiskan waktu petang untuk bermain, sebelum istirahat. Suara Pak Mul masih menjadi alarm pembangun orang-orang saat subuh. Jamaahnya sudah sedikit. Mbah Wo sudah meninggal. Mbah Ni juga kadangkala tidak hadir.
Hari ini, alumni murid-murid Pak Mul telah tersebar di beberapa kota. Andre, yang pernah menyumbang rokok saat puasa dan 7 buah Al-Qur’an bekerja di luar kota. Haki, murid yang selalu jadi biang keramaian juga menghadapi hidup di luar. Dia menjadi pekerja kantor. Wahyu juga demikian, merantau di pulau lain, barangkali idek-idek-nya masih diminati banyak orang, tetapi Pak Mul sudah tidak pernah merasakannya. Karena anak-anak sudah menjadi makhluk dewasa. Bagus, muadzin idola istri Pak Mul, sudah memiliki anak. Istri Bagus juga sudah mengandung lagi. Lalu, Wijak, murid Pak Mul yang acapkali menangis karena ketakutan diajari Pak Mul sudah jarang pulang, sesekali membantu Bapaknya di sawah. Itupun dapat dihitung dengan jari satu tangan. Semua murid-murid Pak Mul sudah tidak pernah berkunjung ke musholla. Ada yang berkunjung pun itu hanya beberapa orang saja dan tidak sering.
Istri Pak Mul sudah memiliki dua cicit. Dia juga memiliki kegemaran lain sekarang, yaitu pada selepas adzan, dia akan mengambil mikropon dari muadzin, ia melantunkan doa sesudah adzan dengan sangat percaya diri.
Hari ini, musholla Pak Mul menjadi sepi. Tetapi Pak Mul meyakini betul murid-muridnya yang sudah tersebar di mana-mana itu tidak akan dapat melupakan mushollanya. Musholla itu akan menjadi museum dalam diri mereka, musholla itu akan terkubur dalam-dalam pada setiap relung paling dalam.
“Murid-muridku sek eling asale, sek eling baline. (Murid-muridku, masih ingat asal dan pulang),” ujar Pak Mul dalam hati, pada tiap subuh.[]

Jember, 17 April 2017

Continue reading Terkuburnya Musholla Pak Mul

SEKEDAR GELANGGANG

Graphicc1

kini, semua yang kosong itu sudah terisi, tapi di ambang batas bersemayam ruang yang memberi jarak antara aku dan kau, sementara dulu, entah telah menjadi sebuah ada yang menyimpan segala pengetahuan kau dan aku tersembunyi, maka dari itu, mari kita berburu secangkir kopi, dan kita harus jalan kaki ketika berangkat, siapa tahu nemu uang,
Buku Sekedar Gelanggang bisa di unduh disini

Sekedar Gelanggang