Category Archives: Uncategorized

NangNingNungPuisi #2

BULETIN_NANGNINGNUNG#2

Download file : BULETIN_NANGNINGNUNG#2

 

Advertisements

Aksen Madura: Film Ji Dullah

Oleh Rendra Sasongko

Jalanan macet penuh kendaraan roda empat dan roda dua. Banyak orang berkumpul dipinggiran jalan raya, berjajar, duduk bercengkrama dan beberapa anak kecil berkejaran dengan teriakan dari ibunya untuk tidak ke tengah jalan sembari menyambar lengannya.

Mereka bukan untuk nonton karnaval. Pertengahan bulan September kali ini bertepatan dengan kedatangan para jemaah haji. Hadrah, arak-arakan kendaraan bermotor, sound system dan menyalakan kembang api walaupun siang hari adalah hal yang jamak di tempat kami. Sebuah kebiasaan yang sudah pasti kita jumpai setiap kali musim haji, terutama untuk kami yang tinggal di Jember bagian utara.

Dibeberapa titik, saya kesulitan untuk lewat. Tanggal 15 September lalu saya di undang untuk menghadiri launching film berjudul “JI DULLAH”, hasil karya teman-teman Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Pawon Carklacer dipilih sebagai tempat untuk menggelar acara ini. Kebetulan saya adalah salah seorang yang dipercaya untuk menjadi pemain dalam film tersebut. Penasaran. Film ini adalah film pertama untuk saya.

Film yang berdurasi 26 menit ini memilih memakai Bahasa Madura dan komedi untuk gendernya. Menjadi unik karena bagi saya, belum pernah ada film yang berbahasa Madura.

“Kenapa harus Haji dan Madura? Karena di budaya Madura, berhaji masih menjadi salah satu tolak ukur seseorang dapat menjadi terpandang di kampungnya. Seolah-olah di masyarakat Madura, orang yang sudah berhaji memang sudah pantas untuk dijadikan tokoh masyarakat”, begitu lah ujar Alif Septian sebagai sutradara film menjelaskan.

Berhaji adalah kebanggaan tersendiri selain sebagai penanda sosial.

Selain dikenal dengan sifat dan perilaku yang eksentrik, masyarakat Madura juga punya sisi humor. Maka tak salah jika film ini memilih genre komedi. Banyak guyonan-guyonan yang bertebaran.

Diceritakan, Haji Abdullah Yasin (Dani Al Pratam) baru datang menunaikan ibadah haji. Ia biasa dipanggil Ji Dulla. Oleh seorang temannya, Hayyun/Yoyon (Rendra S.A), mendesak Ji Dulla untuk mencalonkan diri menjadi Kepala desa (Tenggih). Mulanya, Ji Dulla yang menolak akhirnya mau karena Hayyun menyebut tanah bengkok untuk seorang Kepala Desa seluas 20 hektar. Mereka dibantu oleh Margono (Achmad Bachtiar), seorang Jawa sebagai ‘konsultan politik’ yang memiliki rumah ala-ala dukun.

Dani Al Pratam yang memang humoris, berhasil membangun komedi dalam film tersebut meskipun dialog yang diucapkan adalah dialog serius, selain juga didukung oleh gimmick-gimmick. Penonton juga terbantu dengan teks Bahasa Indonesia. Meski tidak mengerti bahasanya, entah karena logat dan tingkah laku para pemain, penonton bisa tertawa.

Terlepas dari sisi humornya, film ini banyak menyentil hal-hal yang kita lakukan setiap harinya. Dalam salah satu adegan misalnya, Ji Dullah tidak segera memasukkan uang ke dalam kotak amal sebelum beberapa orang yang sedang duduk di masjid memperhatikannya.

Secara umum film ini berhasil menghibur. Hanya saja durasinya terlalu pendek. Menurut sutradaranya, ini dikarenakan ketentuan dari dosen. Iya, film ini dibuat untuk memenuhi Tugas Praktika Terpadu Fiksi.

Banyak hal yang sebenarnya bisa diangkat untuk memperkaya cerita. Sebut saja misalnya, awal mula penambahan gelar haji yang dilakukan oleh kolonial Belanda. Masyarakat kita belum banyak yang tahu.

“Untuk harapannya, film ini dapat menjadi kebanggaan masyarakat Madura, pandalungan dan sekitarnya. Mungkin juga dapat menjadi angin segar dalam iklim film, karena kita tahu masih belum banyak (atau belum ada) film dengan menggunakan latar belakang atau bahasa Madura”, begitu kata Alif yang saya kutip dari percakapan via WA.

Menjadi lebih menarik jika film ini diputar di tengah lingkungan yang digunakan sebagai latar pembuatan filmnya. Selain sebagai media penghibur bagi kami yang selalu haus hiburan, film ini juga dapat memberi warna lain selain sinetron dan film yang banyak, bahkan terlalu banyak, kami tonton di televisi. Festival film atau gedung Cineplex, adalah hal yang terlalu mewah, setidaknya untuk kami yang tinggal di Jember utara.

TELAGA JABAT TANGAN

Cerpen: Ibnu Wicaksono

33emoji-jabat-tangan

 

Jabat tangan seringkali menjadi peristiwa pelunasan sebuah perpisahan yang amat dalam. Tentu, pertemuan adalah jawaban atas segala rindu yang tak lebih dari lima detik akan bergegas sirna. Setidaknya, selama beratus-ratus tahun lamanya, tradisi jabat tangan di Kampung Balung, sebuah kampung yang boleh dikatakan mungil, telah menyebar tradisi jabat tangan sebagai peletakan kehormatan atas pertemuan dari perantauan, perpisahan atau jenis-jenis tatap muka yang lain.

Orang-orang di Kampung Balung hidup di atas tanah leluhur yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Bagi mereka, jagongan dengan sesama tetangga adalah peristiwa paling penting daripada ibadah rohani, mencari uang, mencuci baju atau mengeringkan padi. Sejak kakek-nenek mereka kecil, kampung mereka telah menjalani hidup sebagai tempat bermukimnya manusia dengan jiwa kemanusiaan yang amat tinggi.

Itu pertama kali kesanku mengunjungi kampung yang murung ini. Aku telah bertemu dengan Pak Di, seorang tukang kebun yang harus aku wawancarai. Padanya-lah, aku bergegas tahu tentang dongeng ‘telaga jabat tangan’. Berikut adalah hasil wawancaraku, yang telah kutuliskan dengan gaya prosa.

Sekali lagi, ini adalah nostalgia paling hiperbola sejak saya telah tumbuh menjadi cucu-cucu mereka yang entah keturunan ke berapa. Hari ini, saya telah tumbuh sebagai tukang kebun di sebuah sekolah menengah atas, di mana tetangga-tetangga saya tidak mau tahu apa-apa tentang saya, hanya akan takjub atau memberikan penghargaan atas nama moral ketika saya mampu membeli sepeda motor, televisi, kulkas atau materi-materi lain. Sudah tidak saya jumpai lagi bagaimana ‘tradisi jabat tangan’ yang hanya menjadi dongeng: cerita saban senja di sebuah pelataran rumah Pak Lan, semasa saya masih kecil dulu.

Maka, saya layangkan kisah ini padamu, agar kalian tahu bahwa kampung kami pernah memiliki memoar yang tak pernah tercatat di museum atau catatan-catatan sejarah di instansi manapun. Usai menyapu halaman sekolah, membersihkan lantai kelas, mengecek kamar mandi dan memastikan tak ada lagi siswa yang menghuni lingkungan sekolah, saya mengunjungi sebuah warung nasi pecel kecil, tapi sangat terkenal, Warung Mbok De Sah. Sebenarnya saya sudah seringkali berkunjung ke warung Mbok De Sah, meski hanya sarapan, ngopi atau sekedar menghabiskan waktu. Tapi kali ini berbeda, saya telah berjanji dengan seorang reporter dari kota, entah atas kepentingan apa.

            Aku jabat tangan Pak Di dengan segala kesantunan yang kumiliki. Senyumnya gurih, tulus dan penuh keramahan. Pelupuk matanya amat meneduhkan. Langsung kutanyakan padanya: Mengapa di sini ada Telaga Jabat Tangan? Aku harus mewawancarainya.

            Saya tak menjawab dengan gegas pertanyaannya. Saya pesankan secangkir kopi dengan berbasa-basi sebentar, saya perhatikan tubuhnya. Sepertinya orang baik. Saya juga tidak menemukan jejak-jejak asing dalam wajahnya, tetapi saya tetap waspada. Continue reading TELAGA JABAT TANGAN

Napoleon Wicaksono

Oleh: Achmad Ulul ArchamTha
(Makhluk Teater Gelanggang)

IMG_2947

Saya berfikir maka saya ada (menurut orang, ini terjemahan dari cogito ergo sum), Rene Descartes. Logika peng-ada an untuk menunjukkan kehadiran. Penunjangnya menggunakan sarana berfikir. Seorang bernama Ali Antoni bersembunyi dalam karakter Dolob, mengatakan “stop berfikir positif apalagi negatif’.

Kutipan yang saya ambil dari dua orang tersebut tidak ada hubungannya dengan pembahasan di dalam tulisan ini. Setidaknya terlihat bagus sebagai pembuka. Dan tampak menarik, elegan, keren, dan seperti ‘pengutip’ handal. Karena menghadirkan tokoh-tokoh (yang dianggap) terkenal.

Saya katakan sekarang, bahwasanya sesungguhnya sebenar adanya ini mengenai Diskusi cerpen karya Ibnu Wicak (sono). Judul “Leluhur Menur”. Menghadirkan Ghanesya Hari Murti[1] sebagai Pembicara, tentunya si Ibnu yang menganggap dirinya penulis cerpen dihadirkan. Acara digagas Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMASIND) dalam event bernama Diskusi Sastra (Baca juga: Bedah Cerpen Leluhur Menur ).

***

Hadirnya tokoh-tokoh dalam cerpen bergerak untuk saling timbal balik mengisi ruang-ruang kosong penceritaan. Menur, Janoto, dan Kantil. Leluhur (ditandai kehadirannya sebagai ‘aku’ dalam wujud Roh), dia bisa dikatakan tokoh atau tidak. Mas Ghanesy menggunakan paradigma Bachtin untuk melihat tokoh-tokoh dalam cerpen.

Pemunculan Tokoh Utama.

Setiap pembaca berhak untuk memberikan pembacaan pada sebuah karya. Tidak melulu menunggu kebenaran yang disampaikan oleh penulis. Penulis memiliki otoritas, begitupun pembaca. Supaya tidak terpengaruh oleh pemaknaan utuh pengarang, maka pelu ditiadakannya penulis. Menurut Barthes, perlu ada pembalikan mitos. Untuk memunculkan menghidupkan atau melahirkan pembaca harus diiringi dengan kematian pengarang. Bukan mati seutuhnya, mati secara wujud fisik maupun mati ideologis. Hal itu tetap akan muncul. Setidaknya kesampingkan dulu pengarangnya, taruh sejenak di sebelah gelas kosong atau sendok sisa mengaduk mie seduh. Biar tidak mengganggu orang membaca. Jika tidak ditaruh, makna hanya tunggal yang dimunculkan dan diinginkan pengarang.

Seorang audien mempertanyakan penjelasan mas Ghanesy. Bahwa tidak ada tokoh utama di dalam cerpen Leluhur Menur. Oleh si penulis, tokoh-tokoh dihadirkan memiliki keberimbangan ideologis. Pola pikir serta penyaluran pandangannya setara. Tidak ada dominan tunggal. Bisa saling mendominasi atau dominasi bergilir. Kok bisa, ndak ada tokoh utama. Padahal di ruang kuliah, telah ditekankan bahwa tokoh dibagi menjadi dua, tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh penting dan tokoh pelengkap. Ya, setidaknya dengan biner semacam itu.

Mas Ghanesy dengan acuan Bachtinnya mengatakan tidak melulu harus muncul tokoh utama. Tokoh utama harus memiliki kemandirian berfikir. Tidak banyak digerakkan atau dipengaruhi oleh tokoh-tokoh lain. Bahasa lainnya ‘dikendalikan’. Seorang tokoh yang banyak dikendalikan tokoh lain, ‘tidak layak’ disebut tokoh utama. Kedudukannya menjadi setara.

Sedangkan pertanyaan audien mengenai tokoh utama, dipengaruhi oleh proses tanam pengetahuan di ruang kuliah. Menurut Dosen anu, Tokoh utama biasa ditenggarai dengan kehadirannya di awal. Di awal, ini bisa bermaksud judul.

Mengenai penyimpulan ada atau tidaknya tokoh utama, bergantung pada sisi pandang mana yang digunakan. Dengan kemandirian berfikir, bisa tidak ada tokoh utama. Sedangkan pandangan lain, seperti tokoh utama merupakan tokoh yang paling sering muncul. Salah satu penanda munculnya, disebut atau ditulis paling banyak. Jadi, bergantung paradigma mana yang dipilih untuk menentukan.

Bahasa bukan alat tukar tambah informasi, melainkan alat tukar kekuasaan.(Ghanesy)

Hubungan Realisme dan magis.

Keterikatan Janoto dan Menur diceritakan sebagai manusia pacaran. Konstelasi yang belum tercapai untuk duduk di ruang peng’utuh’an, menikah. Menikah oleh masyarakat sudah dianggap peresmian sebuah hubungan.  Hingga pengadaannya melalui prosedur-prosedur. Entah keagamaan, adat istiadat, hingga negara ikut andil. Gilak, menikah saja harus dirasuki hal-hal macam begitu. Supaya buah yang dihasilkan dari hubungan pohon dan tanah bisa diakui dan dipertanggungjawabkan legalitasnya, secara halal, hukum, dan budaya. Peristiwa menikah memang tidak ditampakkan langsung oleh penulis di dalam cerpen.

Anggap saja, ini sisi magis di antara sisi realis yang ditampilkan Ibnu si penulis binal[2] ditengah perkumpulan realis. Bukan begitu?.

 “Kita semua tahu dengan kemeriahan Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu, BEC, dan lain-lain. Sampai-sampai ritual sakral menjadi tontonan, di mana tradisi tolak bala itu menjadi wisata. Banner diberdirikan di mana-mana, padahal ini adat, bagaimana kesakralan yang ada ketika orang-orang mengunjungi tradisi itu dengan menganggap sebagai wisata kesenian?” (Leluhur Menur)

Continue reading Napoleon Wicaksono

Terkuburnya Musholla Pak Mul

Karya Ibnu Wicaksono

55ec44726ac076200994871a9f4a7890
“Murid-muridku sik eling asale, sik eling baline. (Murid-muridku, masih ingat asal dan pulang),” ujar Pak Mul dalam hati, pada tiap subuh.
Memang, semestinya kita meletakkan ingatan pada masa mungil kita, pada muara tawa paling jujur. Di sanalah tempat bermukimnya segala yang mula.
Sepuluh tahun silam, belasan anak di sebuah kampung, kira-kira seusia anak sekolah dasar, selalu berjingkrak-jingkrak sehabis senja. Bila bersaudara, mereka akan berebut mandi. Bergegas berlari, menuju sebuah musholla kecil di sudut kampung, hanya untuk berebut menjadi muadzin. Ketika Muadzin sudah terpilih atas kecepatan waktu, selanjutnya ada beberapa anak mendekatkan mulutnya pada sebuah mikropon, memastikan suaranya terserap dan keluar sebagai lengkingan merdu di sebuah corong TOA yang dikibarkan pada sebuah bambu di depan musholla. Ibuku di rumah pasti mendengar suaraku, pikir hampir semua anak.
Sehabis Magrib, mereka tidak lekas pulang. Mereka akan belajar mengaji pada Pak Mul. Melingkar dalam ruangan, mengeja huruf hijaiyah, membenarkan tajwid, hapalan do’a dan lain-lain. Sebenarnya mereka tidak senang dengan aktivitas mengaji, tetapi ini adalah keinginan orang tua dan Pak Mul selalu punya cara membuat anak-anak senang. Misalnya, bila Pak Mul melihat anak-anak tampak lesu, Ia akan bergegas mencari ide, seperti meminta tolong untuk diidek-idek (diinjak-injak bagian tubuh, mulai dari punggung, sampai ke telapak kaki). Satu murid akan pergi ke ruang yang biasa ditempati perempuan untuk sholat. Wahyu, seorang murid idola Pak Mul dalam idek-idek, selalu memberi rasa tenang dan nyaman pada tiap injakannya, Murid yang lainnya berpura-pura khusyu’ sebentar, kemudian bila Pak Mul sudah keenakan sampai-sampai dapat tertidur, anak-anak akan berteriak merdeka dari segenap pengawasan. Mereka dapat bergurau sesuka hati, bermain Abece, tepuk nyamuk dan permainan musiman lainnya.
Di setiap jeda-jeda pejam matanya, Pak Mul berteriak dari posisi tidurnya. “Lhooh, kok nggak enek seng ngaji iki? Ndi suarane? Malah rame dewe. (Kok nggak ada yang ngaji, mana ini suaranya? Malah rame sendiri!) Woi!” teriak Pak Mul. Anak-anak bergegas melafalkan ayat-ayat sebisanya. Bersahut-sahutan. Sampai Pak Mul kembali tenang dalam injakan kaki demi kaki. Karena apabila Pak Mul marah, anak-anak akan dipukul dengan penjalen, atau sebatang bambu dengan diameter tak lebih dari setengah senti.
Pernah suatu ketika,. Haki, salah satu anak yang sering dimarahi. Dituduh Pak Mul sebagai biang keramaian. Maka, saat itu, Haki disuruh duduk di tengah lingkaran kami, seperti terdakwa dalam sebuah pengadilan, menjadi pusat perhatian. Pada saat itulah, Haki akan menjadi anak paling kesepian, ia harus mengaji sampai adzan isya’. Karena memang dasar anaknya nakal, Haki membikin ulah, ia mengajak bercanda anak-anak dalam lingkaran. “Hak, kok angel yo ngandani kowe? (kok sulit bener menghadapi kamu, ya)” pekik Pak Mul. Satu samblekan penjalen pun melayang pada punggung Haki. Ia bersuara tidak terlalu keras, tetapi hampir semua teman-teman yang lain pasti dengar. “Huuuh, Mesti aku (kenapa selalu aku?),” itulah ucapan yang seringkali dilayangkan Haki pada setiap punggungnya terkena samblekan.
Pak Mul juga selalu menjadi evaluator yang tekun. Apabila dia menjadi imam dan pada saat sholat terdengar sangat gaduh karena ulah murid-muridnya, seperti cekikikan kecil, suara mendorong tubuh, pukul-memukul dan lain-lain. Usai sholat, Pak Mul tidak akan melanjutkan dengan wiritan, dia akan menginterogasi murid-murid. Siapa yang membuat gaduh akan mendapat satu samblekan. Apabila tidak ada yang mengaku, semua anak akan mendapat samblekan. Lalu, selepas itu, wiritan kembali digelar sampai pulang, bersalaman sambil melantunkan sholawat.
Kadangkala, Pak Mul juga tidak menyuruh anak-anak mengaji apabila ia menemukan wajah-wajah kusut pada hampir seluruh muka muridnya, mungkin ini gara-gara mereka bermain seharian. Lalu, dalam hitungan detik. Satu, dua, tiga detik. Dappp…!!! Pak Mul akan menawarkan hal lain, seperti hapalan surat, tiba’an, dan lain-lain. Sontak, wajah-wajah yang tadinya terlipat kusut, menjadi perlahan ditumbuhi senyum dan menjadi girang tak tertahan. Hore!!! Yesss!!! Yuhuuyy!!!!
Istri Pak Mul juga memiliki ragam cara untuk mengambil hati murid. Ia adalah perempuan yang pandai merayu dan memuji. Sampai-sampai, apabila berada di hadapannya. Anak-anak akan berusaha menunjukkan tampilan paling menarik agar mendapat pujian. Misalnya, ketika datang ke musholla, anak-anak yang datangnya paling awal akan bergegas disebut-sebut, dipuji sampai anak tersebut menjadi putri malu.
Apabila pada sebuah kesempatan, hanya sedikit anak-anak yang datang mengaji, sekitar 4 sampai 6 anak saja. Istri Pak Mul akan memberikan beberapa lembar uang untuk mereka yang datang. Dan, hari esok yang terjadi, banyak anak yang akan berangkat.
Istri Pak Mul sudah memiliki cucu waktu itu. Cucunya juga menjadi salah satu murid, seringkali cucunya cemburu apabila istri Pak Mul memuji anak yang lain. Adu mulut pun juga sering terjadi antara cucu dan istri Pak Mul. Namun, di lain sisi, istri Pak Mul selalu saja memiliki cara untuk membuat anak-anak betah menjadi penghuni musholla sampai mengkhatamkan Al-Qur’an.
Kami memahami betul bagaimana pola imam di musholla Pak Mul. Apabila imam sholat Magrib adalah Pak Tik, sudah dipastikan imam sholat Isya’ adalah Pak Mul. Begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan saban subuh. Biasanya Pak Mul selalu menjadi alarm alami bagi kami yang tidur terlelap. Mulai dari kumandang tarhim, adzan sampai sholawat selepas doa bersama selalu berisi suara Pak Mul. Kami dapat memastikan jumlah orang di musholla hanya dengan mendengar suara mereka. Biasanya kalangan sesepuh yang selalu hadir pada jamaah subuh. Seperti Mbah Wo, Pak De Adek, Mbak Lah, Pak Tik, Mbah Ni, Pak Tik, Pak Mul dan istri Pak Mul. Apabila suara adzan dikumandangkan oleh Pak Mul, sudah dipastikan Pak Tik yang menjadi imam, kecuali Pak Tik berhalangan untuk hadir. Maka jabatan imam akan diberikan kepada orang lain, tidak lain adalah Pak Mul dengan menyuruh orang lain untuk mengumandangkan iqomah. Selalu begitu, dan subuh adalah suasana yang mengantarkan kita pada nuansa gigil, membuat tubuh keenakan dimanja empuk kasur.
Bila Bulan Ramadhan tiba, musholla akan bergegas diperbaiki, mulai pengecatan, bersih-bersih, renovasi atap, ganti mikropon dan lain-lain. Hal yang paling digemari murid-murid adalah ketika ada bersih-bersih, di mana mereka dapat bermain prosotan, sambil mengepel lantai, siram-siraman air dan kejar-kejaran. Sepertinya Pak Mul memahami hal ini, dia tidak pernah memarahi muridnya saat mereka bermain dengan air, kecuali apabila air itu sampai membasai Al-Qur’an. Pak Mul akan marah besar.
Sepuluh hari pertama puasa, terutama hari pertama, muholla Pak Mul akan dipadati oleh orang-orang yang ingin mengikuti ibadah sholat tarawih. Mereka akan berebut shaf paling depan, tentu berbeda dengan murid Pak Mul yang mengidolakan berada pada shaf belakang. Usai sholat tarawih, anak-anak akan berebut untuk menjadi pendahulu pembaca Al-Qur’an. Mereka beranggapan berangkat ke mushola yang sah pada bulan puasa adalah apabila sudah melaksanakan tadarus.
Takjil dari warga, mulai dari gorengan, es campur, buah-buahan dan ragam jenis lainnya tidak pernah absen pada tiap malamnya. Karena apabila tidak ada warga yang memberi, Istri Pak Mul selalu memberi pisang atau kacang kulit. Pada saat takjil datang, anak-anak bergegas menjadi ribut, walaupun mereka telah memiliki peraturan tak tertulis, bahwa anak-anak yang sudah melaksanakan tadarus saja yang diperbolehkan mengambil takjil.
Pertengahan bulan, jamaah sholat tarawih akan menyusut. Yang biasanya ada gelaran karpet di halaman depan musholla, ini tidak akan terjadi lagi, karena jamaah hanya cukup ditampung di musholla saja. Berbeda dengan minggu pertama dan hari-hari akhir. Semua orang memadati musholla sampai membawa tikar sendiri.
Setidaknya, itulah sedikit banyak tentang gambaran mushola Pak Mul sepuluh tahun yang lalu. Hari ini, anak-anak yang mengaji telah habis. Dapat dikatakan ada pun paling banyak berjumlah 5 anak. Pak Mul sudah tidak dapat berjalan dan menjadi imam lagi. Dia harus sholat dengan posisi duduk. Umurnya semakin berisi. Tapi istrinya masih memiliki otot besi.
Hari ini, musholla seringkali sepi, seringkali tidak ada aktivitas mengaji. Anak-anak kecil tidak ada yang berminat mengaji. Mereka lebih gemar mengikuti les privat pelajaran atau sekedar menghabiskan waktu petang untuk bermain, sebelum istirahat. Suara Pak Mul masih menjadi alarm pembangun orang-orang saat subuh. Jamaahnya sudah sedikit. Mbah Wo sudah meninggal. Mbah Ni juga kadangkala tidak hadir.
Hari ini, alumni murid-murid Pak Mul telah tersebar di beberapa kota. Andre, yang pernah menyumbang rokok saat puasa dan 7 buah Al-Qur’an bekerja di luar kota. Haki, murid yang selalu jadi biang keramaian juga menghadapi hidup di luar. Dia menjadi pekerja kantor. Wahyu juga demikian, merantau di pulau lain, barangkali idek-idek-nya masih diminati banyak orang, tetapi Pak Mul sudah tidak pernah merasakannya. Karena anak-anak sudah menjadi makhluk dewasa. Bagus, muadzin idola istri Pak Mul, sudah memiliki anak. Istri Bagus juga sudah mengandung lagi. Lalu, Wijak, murid Pak Mul yang acapkali menangis karena ketakutan diajari Pak Mul sudah jarang pulang, sesekali membantu Bapaknya di sawah. Itupun dapat dihitung dengan jari satu tangan. Semua murid-murid Pak Mul sudah tidak pernah berkunjung ke musholla. Ada yang berkunjung pun itu hanya beberapa orang saja dan tidak sering.
Istri Pak Mul sudah memiliki dua cicit. Dia juga memiliki kegemaran lain sekarang, yaitu pada selepas adzan, dia akan mengambil mikropon dari muadzin, ia melantunkan doa sesudah adzan dengan sangat percaya diri.
Hari ini, musholla Pak Mul menjadi sepi. Tetapi Pak Mul meyakini betul murid-muridnya yang sudah tersebar di mana-mana itu tidak akan dapat melupakan mushollanya. Musholla itu akan menjadi museum dalam diri mereka, musholla itu akan terkubur dalam-dalam pada setiap relung paling dalam.
“Murid-muridku sek eling asale, sek eling baline. (Murid-muridku, masih ingat asal dan pulang),” ujar Pak Mul dalam hati, pada tiap subuh.[]

Jember, 17 April 2017

Continue reading Terkuburnya Musholla Pak Mul

SEKEDAR GELANGGANG

Graphicc1

kini, semua yang kosong itu sudah terisi, tapi di ambang batas bersemayam ruang yang memberi jarak antara aku dan kau, sementara dulu, entah telah menjadi sebuah ada yang menyimpan segala pengetahuan kau dan aku tersembunyi, maka dari itu, mari kita berburu secangkir kopi, dan kita harus jalan kaki ketika berangkat, siapa tahu nemu uang,
Buku Sekedar Gelanggang bisa di unduh disini

Sekedar Gelanggang

Ekstra Media: Bias Kasus Ita Martadinata

acd05fcc2231fcf4f913ced5ddfc742d

Yongky Gigih Prasisko
(Peneliti di Matatimoer Institute)

            Selasa 6 Oktober 1998, digelar jumpa pers dari Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK), tentang kasus kerusuhan Mei 1998, yang turut dihadiri oleh wakil-wakil media internasional. Dalam jumpa pers tersebut para relawan mengutarakan berbagai ancaman yang menderanya. Ancaman yang dimaksudkan supaya mengurungkan niat mereka untuk membantu pengusutan peristiwa Mei 1998 oleh badan-badan internasional. Mereka siap untuk mengirimkan wakilnya untuk memberikan kesaksian kepada dunia internasional tentang berbagai tindak kejahatan yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998. Salah satu wakilnya bernama Martadinata Haryono, atau lebih dikenal sebagai Ita Martadinata.

Pada saat itu Ita Martadinata berusia masih belia, 18 tahun. Ia juga masih berstatus sebagai siswa SMA. Ita adalah seorang korban perkosaan yang berhasil merajut kembali sebagian jati dirinya dan bersama ibunya bergabung dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan untuk membantu korban (perkosaan) yang mengalami gangguan jiwa yang lebih parah. Setelah jumpa pers tersebut Ita berencana akan memberikan kesaksiannya di hadapan kelompok internasional pembela Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat. Ia akan berangkat bersama rombongan yang dipimpin Karlina Supeli. Continue reading Ekstra Media: Bias Kasus Ita Martadinata